Kamis, 22 Maret 2012

Tentang Hati Sang Kekasih ...

MANTAPKAN ROHANI KITA

Untuk santapan rohani kita semua...
renungkanlah........
 1) Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu
perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman.
 2) Dunia ini umpama lautan yg luas. Kita adalah
kapal yg belayar di lautan
telah ramai kapal karam didalamnya.. andai muatan
kita adalah iman, dan
layarnya takwa, nescaya kita akan selamat dari
tersesat di lautan hidup ini.
 3) Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu
tetap hidup dalam kenangan.
 4) Setiap yang kita lakukan biarlah jujur kerana
kejujuran itu telalu
penting dalam sebuah kehidupan. Tanpa kejujuran
hidup sentiasa menjadi mainan orang.
 5) Hati yg terluka umpama besi bengkok walau diketuk
sukar kembali kepada bentuk asalnya.
 6) Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam
kemiskinan harta ada
kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan
ilmu.
 7) Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh
dengan ketenangan dan 
keamanan. Hidup tanpa pegangan ibarat buih-buih
sabun. Bila-bila masa ia akan pecah.
 8) Kegagalan dalam kemuliaan lebih baik daripada
kejayaan dalam kehinaan.
Memberi sedikit dengan ikhlas pula lebih mulia dari
memberi dengan banyak tapi diiringi dengan riak.
 9) Tidak ada insan suci yang tidak mempunyai masa
lampau dan tidak ada insan
yang berdosa yang tidak mempunyai masa depan.
 10) Kata-kata yang lembut dapat melembutkan hati
yang lebih keras dari batu.
Tetapi kata-kata yang kasar dapat mengasarkan hati
yang lunak seperti sutera.
 11) Lidah yang panjangnya tiga inci boleh membunuh
manusia yang tingginya enam kaki.
12) Agama tidak pernah mengecewakan manusia. Tetapi
manusia yang selalu mengecewakan agama.
 13) Nafsu mengatakan perempuan itu cantik atas dasar
rupanya. Akal 
mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu dan
kepintarannya. Dan
hati mengatakan perempuan itu cantik atas dasar
akhlaknya.
 14) Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam di atas
batu yang hitam di
malam yang amat kelam. Ianya wujud tapi amat sukar
dilihat.
 15) Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan
memerlukan perjuangan.
Perjuangan memerlukan ketabahan. Ketabahan
memerlukan keyakinan.

Selasa, 20 Maret 2012

Mengapa Mukmin Sejati Tak Pernah Dilanda Stress ?

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Taala berfirman, وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."
(Qs Al Anbiya: 35)

Ibnu Katsir –semoga Allah Taala merahmatinya– berkata, "Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa." (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342, Cet Daru Thayyibah)
Kebahagiaan hidup dengan bertakwa kepada Allah
Allah Taala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat. Allah Taala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
"Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu." (Qs al-Anfaal: 24)
Ibnul Qayyim -semoga Allah Taala merahmatinya- berkata, "Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan (seperti) hewan yang juga dimiliki oleh binatang yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin." (Kitab Al Fawa-id, hal. 121, Cet. Muassasatu Ummil Qura)
Inilah yang ditegaskan oleh Allah Taala dalam banyak ayat al-Quran, di antaranya firman-Nya,
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Qs  ِAn Nahl: 97)
Dalam ayat lain, Allah Taala berfirman,
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)" (Qs Huud: 3)
Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Ibnul Qayyim mengatakan, "Dalam ayat-ayat ini Allah Taala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat." (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil Arabi)
Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggambarkan ibadah shalat, yang dirasakan sangat berat oleh orang-orang munafik, sebagai sumber kesejukan dan kesenangan hati, dalam sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam,
وجعلت قرة عيني في الصلاة
"Dan Allah menjadikan qurratul ain bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat." (HR. Ahmad 3/128, An Nasai 7/61 dan imam-imam lainnya, dari Anas bin Malik, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaamiish Shagiir, hal. 544)
Makna qurratul ain adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati. (Lihat Fatul Qadiir, Asy Syaukaani, 4/129)
Sikap seorang mukmin dalam menghadapi masalah
Dikarenakan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah Taala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah Taala sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah Taala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dengan keyakinannya ini Allah Taala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Taala dalam firman-Nya,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Qs At Taghaabun: 11)
Ibnu Katsir mengatakan, "Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Taala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya." (Tafsir Ibnu Katsir, 8/137)
Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah Taala dengan hikmah-Nya yang maha sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah Taala dalam mengahadapi musibah tersebut. Tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.
Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim mengatakan, "Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,
وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ
"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan." (Qs An Nisaa: 104)
Oleh karena itu, orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan. Akan tetapi, orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Taala." (Ighaatsatul Lahfan, hal. 421-422, Mawaaridul Amaan)
Hikmah cobaan
Di samping sebab-sebab yang kami sebutkan di atas, ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam meringankan semua kesusahan yang dialami seorang mukmin dalam kehidupan di dunia, yaitu dengan dia merenungkan dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allah Taala jadikan dalam setiap ketentuan yang diberlakukan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Karena dengan merenungkan hikmah-hikmah tersebut dengan seksama, seorang mukmin akan mengetahui dengan yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi dirinya, dalam rangka menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allah Taala.
Semua ini di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah Taala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya. Dengan sikap ini Allah Taala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:
أنا عند ظنّ عبدي بي
"Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku." (HSR al-Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675)
Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Taala. (Lihat kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53)
Di antara hikmah-hikmah yang agung tersebut adalah:
[Pertama]
Allah Taala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya, yang kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebumut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah Taala. Oleh karena itu, musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut akan meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Taala (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan hal. 422, Mawaaridul Amaan). Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
"Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Taala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Taala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)" (HR At Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah, no. 143)
[Kedua]
Allah Taala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Taala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 424, Mawaaridul amaan) Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, "Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya." (HSR Muslim no. 2999)
[Ketiga]
Allah Taala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Taala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 423, Mawaaridul Amaan dan Ibnu Rajab dalam Jaamiul Uluumi wal Hikam, hal. 461, Cet. Dar Ibni Hazm). Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل
"Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan." (HSR Al Bukhari no. 6053)
Penutup
Sebagai penutup, kami akan membawakan sebuah kisah yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim tentang gambaran kehidupan guru beliau, Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah di zamannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –semoga Allah merahmatinya–. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allah Taala takdirkan bagi dirinya.
Ibnul Qayyim bercerita, "Allah Taala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada gurunya, Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Taala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi bersamaan dengan itu semua, aku mendapati beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat), maka dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang." (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil Arabi)
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi shallallahu alaihi wa sallam, 15 Rabiul awwal 1430 H
***
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, Lc.

Untuk Akhwat yg ku cinta ...

DIMANA CANTIKNYA SEORANG WANITA ... ???

Mungkin pada sepasang matanya yang hening yang selalu menjeling tajam atau yang kadang kala malu-malu memberikan kerlingan manja. Boleh jadi pada bibirnya yang tak jemu-jemu menyerlahkan senyuman manis, atau yang sekali-sekala memberikan kucupan mesra di dahi umi juga, ayah, suami dan pipi munggil anak-anak. Atau mungkin juga pada hilai tawanya yang gemersik dan suara manjanya yang boleh melembut sekaligus melembutkan perasaan.
Sejuta perkataan belum cukup untuk menceritakan kecantikan perempuan. Sejuta malah berjuta-juta kali ganda perkataan pun masih belum cukup untuk mendefinisikan tentang keindahan perempuan. Kitalah perempuan itu. Panjatkan kesyukuran kehadrat Tuhan kerana menjadikan kita perempuan dan memberikan keindahan-keindahan itu. Namun, betapa pun dijaga, dipelihara, dibelai dan ditatap di hadapan cermin saban waktu, tiba masanya segalanya akan pergi jua. Wajah akan suram, mata akan kelam. Satu sahaja yang tidak akan dimamah usia, sifat keperempuanan yang dipupuk dengan iman dan ibadah.



Anda ingin lebih cantik dan menarik??
# Jadikanlah Ghadhdul Bashar (menundukkan pandangan) sebagai "hiasan mata" anda, nescaya akan semakin bening dan jernih.

# Oleskan "lipstik kejujuran" pada bibir anda, nescaya akan semakin manis.

# Gunakanlah "pemerah pipi" anda dengan kosmetik yang terbuat dari rasa malu yang dibuat dari salon Iman.

# Pakailah "sabun Istighfar" yang menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang anda lakukan.

# Rawatlah rambut anda dengan "Selendang Islami" yang akan menghilangkan kelemumur pandangan lelaki yang merbahayakan.

# Hiasilah kedua tangan anda dengan gelang Tawadhu' dan jari-jari anda dengan cincin Ukhuwwah.

# Sebaik-baiknya kalung anda adalah kalung "kesucian".

# Bedaklah wajah anda dengan "air Wudhu" nescaya akan bercahaya di akhirat.

Harapan Akhwat Sejati

AKU INGIN DI CINTAI KARENA ALLAH

Jika Kau Mencintaiku Kerana Sifatku Yang Ceria.....
Menjadi Semangat Yang Menyala Di Dalam Hatimu
Kemudian Aku Bertanya..??
Bila Keceriaan Itu Kelam Di Rendung Duka
Seberapa Muram Cintamu Akan Ada Untuk Ku....?!?!


Jika Kamu Mencintaiku Kerana Kecantikanku....
Menyejukkan Setiap Mata Yang Memandangnya
Kemudian Aku Bertanya..??
Saat Kecantika Itu Pudar Di tempuh Usia
Seberapa Pudarkah Kelak Cintamu Kepada Ku..?!?!


Jika Kamu Mencintaiku Kerana Ramah Hatiku
Memberi Kehangatan Dalam Setiap Sapamu
Kemudian Aku Bertanya..??
Sekiranya Keramahan Itu Tertutup Kabut Prasangka
Seberapa Mampu Cintamu Merendam Praduga..?!?!


Jika Kamu Mencintaiku Kerana Pengertianku Yang Ku Berikan
Menumbuhkan Ketenangan Karena Kepercayaan Yang Ku Tanam
Kemudian Aku Bertanya..??
Kelak Pengertian Itu Tertelan Oleh Ego Sesaat
Seberapa Kau Mampu Mengerti Cinta Ini..?!?!


Jika Kamu Mencintaiku Kerana Keteguhan Imanku
Bagai Sinar Yang Benderang Menghantarkan Cahaya
Kemudian Aku Bertanya..??
Kala Iman Itu Jatuh Menurun
Seberapa Kurang Akhirnya Cintamu Padaku..?!?!


Jika Kamu Mencintai Aku Kerana Ku Yang Telah kau Pilih
Sebagai Cinta Yang Kau Pegang Sepanjang Hidupmu
Kemudian Aku Bertanya..??
Bila Hati Ini Tergoda Oleh Cinta Yang lain
Seberapa Mantap Cinta Itu Untuk Setia..?!?!


Andai Sejuta Alasan Tak Cukup
Untuk Membuat Cinta Ini Tetap Bersama Diriku
Maka...
Biar Ku Pinta Satu Alasan Untuk Menjaga Cinta Ini...


* Aku Ingin Kau Cintai Kerana Allah..
Kerana Dia Kan Selalu Ada untuk Menjaga
* Maka...
Cintaku Akan Tetap Kukuh & Setia
Hingga Kelak Ku Tak Mampu mencintaimu Lagi..
* Kerana Cintaku Hanya Pada Allah SWT...
Dan Kerana Cintaku Akan Pulang Kepada-Nya...

~KISAH CINTA ROMANTIS ADAM HAWA~

Kita hidup kerana-Nya melalui satu 'peristiwa' yang sama...

"Syurga yang serba nikmat...Segala kesenangan ada di dalamnya. Semua tersedia di sana. Apa saja yang diinginkan, tanpa bersusah payah dapat diperoleh dengan mudah. Sungguh suatu tempat yang amat indah dan permai, menjadi idaman setiap insan. Demikianlah menurut riwayat, tatkala Allah SWT. selesai mencipta alam semesta dan makhluk-makhluk lainnya, maka dicipta-Nya pula Adam ‘alaihissalam sebagai manusia pertama. Hamba yang dimuliakan itu ditempatkan Allah SWT di dalam Syurga (Jannah).

Adam a.s hidup sendirian dan sebatang kara, tanpa mempunyai seorang kawan pun. Ia berjalan ke kiri dan ke kanan, menghadap ke langit-langit yang tinggi, ke bumi terhampar jauh di seberang, maka tiadalah sesuatu yang dilihatnya dari mahkluk sejenisnya kecuali burung-burung yang berterbangan ke sana ke mari, sambil berkejar-kejaran di angkasa bebas, bernyanyi-nyanyi, bersiul-siul, seolah-olah mempamerkan kemesraan.

Adam a.s terpikat melihatnya, rindu berkeadaan demikian. Tetapi sungguh malang, siapalah gerangan kawan yang hendak diajak berhibur. Ia merasa kesepian, lama sudah. Ia tinggal di syurga bagai orang kebingungan, tiada pasangan yang akan dibujuk bermesra sebagaimana burung-burung yang dilihatnya.

Tiada pekerjaan sehari-hari kecuali bermalas-malas begitu saja, bersantai berangin-angin di dalam taman syurga yang indah permai, yang ditumbuhi oleh bermacam bunga-bunga kuntum semerbak yang wangi, yang di bawahnya mengalir anak-anak sungai bercabang-cabang, yang desiran airnya bagai mengandung pembangkit rindu.

ADAM KESEPIAN
Apa saja di dalam syurga semuanya nikmat! Tetapi apalah erti segalanya kalau hati selalu gelisah resah di dalam kesepian seorang diri?

Itulah satu-satunya kekurangan yang dirasakan Adam a.s di dalam syurga. Ia perlu kepada sesuatu, iaitu kepada kawan sejenis yang akan mendampinginya di dalam kesenangan yang tak terhingga itu. Kadangkala kalau rindu dendamnya datang, turunlah ia ke bawah pohon-pohon rendang mencari hiburan, mendengarkan burung-burung bernyanyi bersahut-sahutan, tetapi aduh hai kasihan...bukannya hati menjadi tenteram, malah menjadi lebih tertikam. Kalau angin bertiup sepoi-sepoi bahasa di mana daun-daunan bergerak lemah gemalai dan mendesirkan suara sayup-sayup, maka terkesanlah di hatinya keharuan yang begitu mendalam; dirasakannya sebagai derita batin yang tegak di sebalik nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Meskipun demikian, agaknya Adam a.s malu mengadukan halnya kepada Allah SWT. Namun, walaupun Adam a.s malu untuk mengadu, Allah Ta'ala sendiri Maha Tahu serta Maha Melihat apa yang tersembunyi di kalbu hamba-Nya. Oleh itu Allah Ta'ala ingin mengusir rasa kesepian Adam.
HAWA DICIPTAKAN
Tatkala Adam a.s sudah berada di puncak kerinduan dan keinginan untuk mendapatkan kawan, sedang ia lagi duduk terpekur di atas tempat duduk yang berlapiskan tilam permaidani serba mewah, maka tiba-tiba ngantukpun datanglah menawannya serta langsung membawanya hanyut ke alam tidur.

Adam a.s tertidur nyenyak, tidak sedar kepada sesuatu yang ada di sekitarnya. Dalam saat-saat yang demikian itulah Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat Jibril a.s untuk mencabut tulang rusuk Adam a.s dari lambung sebelah kiri. Bagai orang yang sedang terbius, Adam a.s tidak merasakan apa-apa ketika tulang rusuknya dicabut oleh malaikat Jibril a.s.

Dan oleh kudrat kuasa Ilahi yang manakala menghendaki terjadinya sesuatu cukup berkata “Kun!” maka terciptalah Hawa dari tulang rusuk Adam a.s, sebagai insan kedua penghuni syurga dan sebagai pelengkap kurnia yang dianugerahkan kepada Adam a.s yang mendambakan seorang kawan tempat ia boleh bermesra dan bersenda gurau.

PERTEMUAN ADAM DAN HAWA
Hawa duduk bersandar pada bantal lembut di atas tempat duduk megah yang bertatahkan emas dan permata-permata bermutu manikam, sambil terpesona memperhatikan kecerahan wajah dari seorang lelaki kacak yang sedang terbaring, tidak jauh di depannya.

Butir-butir fikiran yang menggelombang di dalam sanubari Hawa seolah-olah merupakan arus-arus tenaga elektrik yang datang mengetuk kalbu Adam a.s, yang langsung menerimanya sebagai mimpi yang berkesan di dalam gambaran jiwanya seketika itu.

Adam terjaga....! Alangkah terkejutnya ia ketika dilihatnya ada makhluk manusia seperti dirinya hanya beberapa langkah di hadapannya. Ia seolah-olah tidak percaya pada penglihatannya. Ia masih terbaring mengusap matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang sedang dilihatnya.

Hawa yang diciptakan lengkap dengan perasaan malu, segera memutar badannya sekadar untuk menyembunyikan bukit-bukit di dadanya, seraya mengirimkan senyum manis bercampur manja, diiringi pandangan melirik dari sudut mata yang memberikan sinar harapan bagi hati yang melihatnya.

Memang dijadikan Hawa dengan bentuk dan paras rupa yang sempurna. Ia dihiasi dengan kecantikan, kemanisan, keindahan, kejelitaan, kehalusan, kelemah-lembutan, kasih-sayang, kesucian, keibuan dan segala sifat-sifat keperibadian yang terpuji di samping bentuk tubuhnya yang mempesona serta memikat hati setiap yang memandangnya.

Ia adalah wanita tercantik yang menghiasi syurga, yang kecantikannya itu akan diwariskan turun temurun di hari kemudian, dan daripadanyalah maka ada kecantikan yang diwariskan kepada wanita-wanita yang datang dibelakangnya.

Adam a.s pun tak kurang gagah dan kacaknya. Tidak dijumpai cacat pada dirinya kerana ia adalah satu-satunya makhluk insan yang dicipta oleh Allah SWT secara langsung tanpa perantaraan.

Semua kecantikan yang diperuntukkan bagi lelaki terhimpun padanya. Kecantikan itulah yang diwariskan turun temurun kepada orang-orang di belakangnya sebagai anugerah Allah SWT kepada makhluk-Nya yang bergelar manusia. Bahkan diriwayatkan bahawa kelak semua penduduk syurga akan dibangkitkan dengan pantulan dari cahaya rupa Adam a.s.

Adam a.s bangkit dari pembaringannya, memperbaiki duduknya. Ia membuka matanya, memperhatikan dengan pandangan tajam. Ia sedar bahawa orang asing di depannya itu bukanlah bayangan selintas pandang, namun benar-benar suatu kenyataan dari wujud insani yang mempunyai bentuk fizikal seperti dirinya. Ia yakin ia tidak salah pandang. Ia tahu itu manusia seperti dirinya, yang hanya berbeza kelaminnya saja. Ia serta merta dapat membuat kesimpulan bahawa makhluk di depannya adalah perempuan. Ia sedar bahawa itulah dia jenis yang dirindukannya. Hatinya gembira, bersyukur, bertahmid memuji Zat Maha Pencipta.

Ia tertawa kepada gadis jelita itu, yang menyambutnya tersipu-sipu seraya menundukkan kepalanya dengan pandangan tak langsung, pandangan yang menyingkap apa yang terselit di kalbunya.
ADAM TERPIKAT
Adam terpikat pada rupa Hawa yang jelita, yang bagaikan kejelitaan segala puteri-puteri yang bermastautin di atas langit atau bidadari-bidadari di dalam syurga.

Tuhan menanam asmara murni dan hasrat berahi di hati Adam a.s serta menjadikannya orang yang paling asyik dilamun cinta, yang tiada taranya dalam sejarah, iaitu kisah cinta dua insan di dalam syurga. Adam a.s ditakdirkan jatuh cinta kepada puteri yang paling cantik dari segala yang cantik, yang paling jelita dari segala yang jelita, dan yang paling harum dari segala yang harum.

Adam a.s dibisikkan oleh hatinya agar merayu Hawa. Ia berseru: “Aduh, hai si jelita, siapakah gerangan kekasih ini? Dari manakah datangmu, dan untuk siapakah engkau disini?” Suaranya sopan, lembut, dan penuh kasih sayang.
“Aku Hawa,” sambutnya ramah. “Aku dari Pencipta!” suaranya tertegun seketika. “Aku....aku.. ..aku, dijadikan untukmu!” tekanan suaranya meyakinkan.

Tiada suara yang seindah dan semerdu itu walaupun berbagai suara merdu dan indah terdengar setiap saat di dalam syurga. Tetapi suara Hawa....tidak pernah di dengarnya suara sebegitu indah yang keluar dari bibir mungil si wanita jelita itu. Suaranya membangkit rindu, gerakan tubuhnya menimbulkan semangat.

Kata-kata yang paling segar didengar Adam a.s ialah tatkala Hawa mengucapkan terputus-putus: “Aku....aku.. ..aku, dijadikan untukmu!” Kata-kata itu nikmat, menambah kemesraan Adam kepada Hawa.

Adam a.s sedar bahawa nikmat itu datang dari Tuhan dan cintapun datang dari Tuhan. Ia tahu bahawa Allah SWT itu cantik, suka kepada kecantikan. Jadi, kalau cinta kepada kecantikan berertilah pula cinta kepada Tuhan. Jadi cinta itu bukan dosa tetapi malah suatu pengabdian. Dengan mengenali cinta, makrifah kepada Tuhan semakin mendalam. Cinta kepada Hawa bererti cinta kepada Pencipta. Dengan keyakinan demikian Adam a.s menjemput Hawa dengan berkata: “Kekasihku, ke marilah engkau!” Suaranya halus, penuh kemesraan.

“Aku malu!” balas Hawa seolah-olah menolak. Tangannya, kepalanya, memberi isyarat menolak seraya memandang Adam dengan penuh ketakjuban.

“Kalau engkau yang inginkan aku, engkaulah yang ke sini!” Suaranya yang bagaikan irama seolah-olah memberi harapan.

Adam tidak ragu-ragu. Ia mengayuh langkah gagah mendatangi Hawa. Maka sejak itulah teradat sudah bahawa wanita itu didatangi, bukan mendatangi.

Hawa bangkit dari tempat duduknya, menggeser surut beberapa langkah. Ia sedar bahawa walaupun dirinya diperuntukkan bagi Adam a.s, namun haruslah mempunyai syarat-syarat tertentu. Di dalam sanubarinya, ia tidak dapat menyangkal bahawa iapun terpesona dan tertarik kepada rupa Adam a.s yang sungguh indah.

Adam a.s tidak putus asa. Ia tahu itu bukan dosa. Ia tahu membaca isi hati. Ia tahu bukannya Hawa menolak, tetapi menghindarnya itu memanglah suatu perbuatan wajar dari sikap malu seorang gadis yang berbudi. Ia tahu bahawa di balik “malu” terselit “rasa mahu”. Kerananya ia yakin pada dirinya bahawa Hawa diperuntukkan baginya. Naluri insaninya bergelora.

Tatkala sudah dekat ia pada Hawa serta hendak mengulurkan tangan sucinya kepadanya, maka tiba-tiba terdengarlah panggilan ghaib berseru:
“Hai Adam....tahanlah dirimu. Pergaulanmu dengan Hawa tidak halal kecuali dengan mahar dan menikah!”.

Adam a.s tertegun, balik ke tempatnya dengan taat. Hawa pun mendengar teguran itu dan hatinya tenteram. Kedua-dua manusia syurga itu sama terdiam seolah-olah menunggu perintah.

PERKAHWINAN ADAM DAN HAWA
Allah SWT. Yang Maha Pengasih untuk menyempurnakan nikmatnya lahir dan batin kepada kedua hamba-Nya yang saling memerlukan itu, segera memerintahkan gadis-gadis bidadari penghuni syurga untuk menghiasi dan menghibur mempelai perempuan itu serta membawakan kepadanya hantaran-hantaran berupa perhiasan-perhiasan syurga. Sementara itu diperintahkan pula kepada malaikat langit untuk berkumpul bersama-sama di bawah pohon “Syajarah Thuba”, menjadi saksi atas pernikahan Adam dan Hawa.

Diriwayatkan bahawa pada akad pernikahan itu Allah SWT. berfirman: “Segala puji adalah kepunyaan-Ku, segala kebesaran adalah pakaian-Ku, segala kemegahan adalah hiasan-Ku dan segala makhluk adalah hamba-Ku dan di bawah kekuasaan-Ku. Menjadi saksilah kamu hai para malaikat dan para penghuni langit dan syurga bahawa Aku menikahkan Hawa dengan Adam, kedua ciptaan-Ku dengan mahar, dan hendaklah keduanya bertahlil dan bertahmid kepada-Ku!”.

MALAIKAT DAN PARA BIDADARI BERDATANGAN
Setelah akad nikah selesai berdatanganlah para malaikat dan para bidadari menyebarkan mutiara-mutiara yaqut dan intan-intan permata kemilau kepada kedua pengantin agung tersebut. Selesai upacara akad, dihantarlah Adam a.s mendapatkan isterinya di istana megah yang akan mereka diami.

Hawa menuntut haknya. Hak yang disyariatkan Tuhan sejak semulajadi.
“Mana mahar?” tanyanya. Ia menolak persentuhan sebelum mahar pemberian ditunaikan dahulu.

Adam a.s bingung seketika. Lalu sedar bahawa untuk menerima haruslah sedia memberi. Ia insaf bahawa yang demikian itu haruslah menjadi kaedah pertama dalam pergaulan hidup.

Sekarang ia sudah mempunyai kawan. Antara sesama kawan harus ada saling memberi dan saling menerima. Pemberian pertama pada pernikahan untuk menerima kehalalan ialah mahar. Oleh kerananya Adam a.s menyedari bahawa tuntutan Hawa untuk menerima mahar adalah benar.

MAHAR PERKAHWINAN ADAM
Pergaulan hidup adalah persahabatan! Dan pergaulan antara lelaki dengan wanita akan berubah menjadi perkahwinan apabila disertai dengan mahar. Dan kini apakah bentuk mahar yang harus diberikan? Itulah yang sedang difikirkan Adam.

Untuk keluar dari keraguan, Adam a.s berseru: “Ilahi, Rabbi! Apakah gerangan yang akan kuberikan kepadanya? Emaskah, intankah, perak atau permata?”.

“Bukan!” kata Tuhan.

“Apakah hamba akan berpuasa atau solat atau bertasbih untuk-Mu sebagai maharnya?” tanya Adam a.s dengan penuh pengharapan.

“Bukan!” tegas suara Ghaib.

Adam diam, mententeramkan jiwanya. Kemudian bermohon dengan tekun: “Kalau begitu tunjukilah hamba-Mu jalan keluar!”.

Allah SWT. berfirman: “Mahar Hawa ialah selawat sepuluh kali atas Nabi-Ku, Nabi yang bakal Kubangkit yang membawa pernyataan dari sifat-sifat- Ku: Muhammad, cincin permata dari para anbiya’ dan penutup serta penghulu segala Rasul. Ucapkanlah sepuluh kali!”.
Adam a.s merasa lega. Ia mengucapkan sepuluh kali salawat ke atas Nabi Muhammad SAW. sebagai mahar kepada isterinya. Suatu mahar yang bernilai spiritual, kerana Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Hawa mendengarkannya dan menerimanya sebagai mahar.
“Hai Adam, kini Aku halalkan Hawa bagimu”, perintah Allah, “dan dapatlah ia sebagai isterimu!”.
Adam a.s bersyukur lalu menghampiri isterinya dengan ucapan salam. Hawa menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang seimbang.

Allah SWT. berfirman kepada mereka: “Hai Adam, diamlah engkau bersama isterimu di dalam syurga dan makanlah (serta nikmatilah) apa saja yang kamu berdua ingini, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini kerana (apabila mendekatinya) kamu berdua akan menjadi zalim”.
(Al-A’raaf: 19).

Dengan pernikahan ini Adam a.s tidak lagi merasa kesepian di dalam syurga. Inilah percintaan dan pernikahan yang pertama dalam sejarah umat manusia, dan berlangsung di dalam syurga yang penuh kenikmatan. Iaitu sebuah pernikahan agung yang dihadiri oleh para bidadari, jin dan disaksikan oleh para malaikat. Peristiwa pernikahan Adam dan Hawa terjadi pada hari Jumaat. Entah berapa lama keduanya berdiam di syurga, hanya Allah SWT yang tahu. Lalu keduanya diperintahkan turun ke bumi. Turun ke bumi untuk menyebar luaskan keturunan yang akan mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan janji bahawa syurga itu tetap tersedia di hari kemudian bagi hamba-hamba yang beriman dan beramal soleh.

Firman Allah SWT.: “Kami berfirman: Turunlah kamu dari syurga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, nescaya tidak ada kekhuatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(Al-Baqarah: 38)

subhanallah...

Sejarah telah mencatatkan cerita cinta agung yang diredhai Allah. Bukan kisah cinta sehidup semati Romeo dan Juliet, pengorbanan kasih Shah Jehan terhadap Mumtaz dan bukan juga cinta abadi Qaisy dan Laila. Sama-samalah kita cuba ikuti dan teladani kisah cinta agung Yang Maha indah ini. Semoga cinta kita mendapat kurniaan rahmat dari Ilahi. Insya-Allah... Amin.


Surat Cinta kepada Sang Kekasih

UNTUKMU BERNAMA CINTA

Wanita muslimah laksana bunga yang menawan, wanita muslimah yang solehah bagaikan sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya. Begitu indah, begitu berkilau dan mententeramkan…


Teramat banyak yang ingin meraih bunga tersebut…
Namun tentunya…tak sembarang orang berhak meraihnya….menghirup serinya…. hanya dia yang benar-benar terpilih…yang dapat memetiknya…meraih pesonanya…


Dengan harga mahal yang teramat suci…
Sebuah ikatan amat indah…bernama PERNIKAHAN....
Kerana itu…sebelum saatmu tiba….
Janganlah engkau biarkan seorang muslimah layu sebelum masanya…
Jangan kau menjadikan serigala liar membuatmu bahan permainan…
Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….atas nama taaruf…atas nama cinta…


Ya…atas nama cinta…
Jangan kau biarkan ia permainkan hatimu yang rapuh….
Atas nama taaruf…atas nama Cinta


Kau tahu saudaraku…??
Jika seseorang jatuh cinta….maka cinta akan membungkus seluruh aliran darahnya…membekukannya dalam jari-jarinya. dan menutup semua mata…hati dan fikirannya….


Membuat seseorang lupa akan prinsipnya….
Membuat seseorang lupa akan besarnya fitnah ikhwan-akhwat…
Membuat seseorang lupa akan apa yang benar dan apa yang seharusnya ia hindarkan…
Membuat seseorang itu lupa akan apa yang telah ia pelajari sebelumnya tentang batasan-batasan pergaulan ikhwan akhwat…
Membuat seseorang menyerahkan apapun…supaya orang yang ia cintai…”bahagia” atau redho terhadap apa yang ia lakukan…
Membuat orang tersebut lupa…bahawa….cinta mereka belum tentu akan bersatu dalam pernikahan….


Wahai saudaraku….akhi fillah…
Jangan sampai cinta menjerumuskanmu dalam lubang yang telah engkau tutup rapat sebelumnya…


Kerana itu…jika engkau mulai menyedari adanya benih-benih cinta mulai tertanam lembut dalam hatimu yang rapuh…segeralah…buat sebuah benteng yang tebal…yang kukuh…


Tanam rumput beracun disekelilingnya…


Pasang semak berduri di muara-muaranya


Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati.
Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan.
Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya.
Dia berikan kita cinta kepada anak, isteri, suami, orang tua, kaum muslimin…


Cinta begitu dasyat pengaruhnya…
Berlarilah menjauhinya…
Menjauhi orang yang kau cintai….
Buat jarak yang demikian lebar padanya….
Jangan kau berikan ia kesempatan untuk menjejaki hatimu…


Biarlah air mata mengalir untuk saat ini…
Kerana kelak yang akan kalian temui adalah kebahagiaan…
Biarlah sakit ini untuk sementara waktu…
Biarlah luka ini mengering dengan berjalannya waktu…


Kerana…cinta tidak lain akan membuat kalian sendiri yang menderita…


Saudaraku….
Tentunya kau sudah mengerti dan faham…
Bagaimana rasanya jika sedang jatuh cinta…
Jika dia jauh..kita merasa sakit kerana rindu…
Jika ia dekat…kita merasa sakit…kerana takut kehilangan….
Padahal…ia belum halal untukmu…dan mungkin tidak akan pernah menjadi yang halal untukmu…


Kerana itu…jauhilah ia…
Jangan kau biarkan dia menanamkan benih-benih cinta di hatimu….dan kemudian mengusik jiwamu…
Jangan kau biarkan dia mempermainkanmu dalam kisah yang bernama cinta…
Maka…bayangkanlah keadaan ini…tentang isterimu kelak…


Saudaraku…..
Sukakah engkau..??
Apabila saat ini ternyata isterimu (kelak) sedang memikirkan lelaki lain selain kamu..???


Sukakah engkau..??
Bila ternyata isterimu (kelak) saat ini sedang bergurau senda…tertawa riang…
Saling menatap…
Saling menggoda…
Saling mencubit…
Saling bertemu mata…
Saling menyentuh…???
Dan bahkan lebih dari itu…??
Sukakah engkau saudaraku…??


Sukakah engkau bila ternyata saat ini isterimu (kelak) sedang jalan bersama lelaki lain selain kamu…??
Sukakah engkau…??
Bila saat ini isterimu (kelak) sedang memikirkan pertemuan bersama lelaki selain kamu…??


Tidak cemburukah engkau temanku..??
Bila saat ini isterimu (kelak) sedang makan bersama lelaki lain…
Isterimu (kelak) saat ini sedang digoda oleh lelaki lain….
Isterimu (kelak) sedang berbual mesra d corong telefon bersama lelaki lain…
Tidak cemburukah…?? tidak cemburukah…?? tidak cemburukaaaaahhhhhhhh kamu……???


Tidak tercabarkah kamu..
Jika isterimu (kelak) saat ini tengah beradu pandangan…
Bercengkrama..
Bercerita tentang masa depannya…
Dengan lelaki selain kamu…???


Sukakah engkau kiranya isterimu (kelak) saat ini tidak bisa tidur kerana memikirkan lelaki lain??
Menangis untuk lelaki lain…??
Dan berkata dengan hati hancur…”aku sangat mencintamu…aku sangat mencintaimu…???”
Tidak patah hatikah engkau…???
Sukakakah engkau bila isterimu (kelak ) berkata pada lelaki lain..”tidak ada orang yang lebih aku cintai selain engkau…??”


Menyebut lelaki tersebut dalam doanya…
Memohon pada Allah supaya lelaki tersebut menjadi suaminya…
Dan ternyata engkaulah yang kelak akan jadi suaminya…..dan bukan lelaki tersebut…???


Jika engkau tidak suka akan hal itu…
Jika engkau merasa cemburu….
Maka bagaimanakah dengan isterimu (kelak)…


Dan…Allah jauh lebih cemburu daripada isterimu….
Allah lebih cemburu…saudaraku…
Melihat engkau sendirian…namun fikirannmu enggan berpindah dari wanita yang telah mengusik hatimu….
Saudaraku….kalian percaya takdir..?
Saudaraku….kalian percaya takdir..?


Apabila dua orang telah digariskan untuk dapat hidup bersama…
Maka…
Sejauh mana pun mereka…
Sebanyak mana pun rintangan yang menghalang…
Sebesar apapun beza antara mereka…
Sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk menghindarkannya…


PASTI tetap akan bersatu….


Namun…
Apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak berjodoh…
Maka…
Sebesar mana pun usaha mereka untuk saling mendekati…
Sekeras mana pun upaya untuk bersatu…
Sekuat apapun perasaan yang ada antara mereka berdua…
Sebanyak apapun komunikasi antara mereka sebelumnya…
Sedekat apapun…


PASTI…akan ada hal yang membuat mereka akhirnya saling menjauh…


Ada perkara yang membuatkan mereka saling merasa tidak sepadan…
Ada perkara yang membuatkan mereka saling menyedari ia bukan yang terbaik….
Ada kejadian yang menghalang mereka untuk bersatu…
Bahkan ketika mereka telah menetapkan tarikh pernikahan…


Namun…
Yakinlah…apa yang telah ditetapkan oleh Allah…
Yakinlah…apa yang telah ditulis oleh Allah dalam KitabNya..
Adalah…yang terbaik untuk kita….


Kerana Dialah…yang lebih Mengetahui...




Dan….yang perlu kita catat juga adalah…


JIKA KITA TIDAK MENDAPATKAN APA YANG KITA INGINKAN..ITU BUKAN BERERTI BAHWA KITA TIDAK LAYAK UNTUK MENDAPATKANNYA...NAMUN JUSTERU BERERTI BAHWA...KITA LAYAK MENDAPATKAN YANG LEBIH BAIK DARI PERKARA TERSEBUT..

Kerana itu…saudaraku…
Jangan mubazirkan perasaanmu…air matamu…waktumu….
Jangan kau curahkan semua perasaan cintamu...
Kerana belum tentu dia adalah jodohmu…
Jangan bimbang jika ia tidak sepadan denganmu…
Kerana Allah telah menetapkan yang terbaik untukmu…


Memohonlah padaNya…
Minta diberikan petunjuk…dan dijauhkan dari segala godaan dunia yang ada…
Kerana…cinta sebelum pernikahan…pada hakikatnya adalah sebuah ujian yang paling berat…
Dan…percayalah…telah ditentukan oleh Allah sebelum kita dilahirkan di dunia ini....


Banyakkanlah bekalanmu…dan doamu…
Yakinlah…bahwa Allah yang akan memilih yang terbaik untukmu…
Amin…


Ya Allah…kurniakanlah kami seorang pasangan yang soleh dan solehah…
Yang menjaga dirinya…
Yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal baginya…
Yang sentiasa memperbaiki dirinya…
Yang sentiasa berusaha mengikuti sunnah Rasulullah…
Yang baik akhlaknya…
Yang menerima kami apa adanya…
Yang akan membawa kami menuju Jannah Mu Ya Rabb…


Kabulkan doa kami Ya Allah…
Percepatkanlah jodoh antara kami Ya Allah...
Untuk menjaga hati kami dari terus melakukan maksiat kepadaMU Ya Allah...



~**Percintaan Dalam Islam**~

Dipetik daripada buku “PSIKOLOGI CINTA” terbitan PTS Millennia Sdn Bhd




Dalam surah ar-Rum ayat 21 Allah menyatakan, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahawa Dia menciptakan isteri-isteri bagimu dari kalangan kamu sendiri supaya kamu dapat hidup tenang bersama mereka dan diadakan-Nya cinta kasih sayang antara kamu. Sungguh, dalam yang demikian ada tanda-tanda bagi orang yang menggunakan fikiran”
ISLAM menggariskan akhlak yang terbaik untuk merealisasikan percintaan sesama lelaki dan perempuan yang mukalaf. Terdapat tiga peringkat percintaan yang mana orang Islam hendaklah mencuba sedaya upaya mereka untuk memelihara kesucian cinta itu daripada dicemari unsur-unsur maksiat dan perkara-perkara yang dapat membawa kepada kemurkaan Allah. Tiga peringkat tersebut adalah cinta sebelum perkahwinan, cinta selepas bertunang dan cinta selepas perkahwinan.
Cinta Sebelum Kahwin
Cinta sebelum perkahwinan adalah cinta yang hadir daripada pergaulan harian dengan individu yang mempunyai kesamaan daripada segi cita rasa, peribadi, minat dan cara hidup. Ada kalanya cinta ini adalah cinta pandang pertama yang hadir secara mendadak, dan ia juga mungkin cinta yang dibina secara berperingkat melalui pertemuan dan pergaulan harian. Cinta sebelum perkahwinan biasanya tidak digalakkan dalam Islam, kerana dikhuatiri akan menjerumuskan pencinta itu ke kancah maksiat dan kelalaian dalam percintaan. Walau bagaimanapun, jika percintaan itu mempunyai matlamat suci, iaitu untuk membawa pencinta itu ke jinjing pelamin dan ikatan yang sah, maka sebagai pencinta yang beriman dan takutkan Allah, mereka haruslah menjaga dan memelihara perkara-perkara berikut:
1.Menjaga batas-batas pergaulan dengan tidak menyentuh sesama sendiri, tidak membuang masa berjam-jam dengan bertelefon atau berbual-bual, dan tidak menjadikan pergaulan mereka seperti suami isteri yang sudah sah dinikahkan. Mereka harus sedar dan berasa malu kerana mereka masih belum mempunyai sebarang hak ke atas satu sama lain.
2.Menghormati maruah dan harga diri masing-masing, dalam erti kata lain tidak membenarkan diri berdua-duaan dengan kekasih, kerana orang yang ketiga adalah syaitan. Di samping itu tidak berhias-hias atau menampakkan perhiasan di hadapan kekasih kerana dikhuatiri boleh menaikkan nafsu syahwat kekasih. Sebaik-baiknya sebarang pertemuan hendaklah melibatkan mahram atau ibu bapa yang mengawasi tingkah laku mereka.
3.Mendapat restu dan kebenaran dari ibu bapa adalah faktor kejayaan dalam percintaan sebelum perkahwinan. Restu daripada ibu bapa memudahkan proses pertunangan dan pernikahan yang akan berlangsung sebagai kelangsungan daripada cinta itu. Ibu bapa harus memainkan peranan dengan memastikan anak-anak tidak melupakan tanggungjawab peribadi dan batasan akhlak dan ajaran agama semasa bercinta.
4.Berdoa dan menunaikan solat hajat supaya percintaan yang dimiliki akan diredai dan diberkati Allah. Bermohon kepada Allah supaya cinta itu dapat membawa kepada kesempurnaan peribadi dan kesempurnaan agama dengan mendirikan rumah tangga dan memelihara kelangsungan cinta itu.
5.Sentiasa melakukan solat Istikharah bagi meneguhkan hati supaya orang yang dicintai itu adalah yang terbaik untuk menjadi pasangan hidup sehingga ke akhir hayat. Janganlah mencintai seseorang kerana harta, rupa atau keturunannya, tetapi cintailah dia kerana agama dan kemuliaan akhlaknya. Solat istikharah membantu supaya individu yang bercinta itu tidak menyesal dengan pilihannya dan dia wajiblah menjuruskan percintaannya itu untuk mendirikan rumah tangga yang terpelihara. Sekiranya dia bercinta tanpa niat untuk berumah tangga tetapi sekadar ingin bermain-main dan bersuka ria, maka percintaan itu adalah penipuan dan setiap perbuatan ke arah itu mencetuskan dosa dan kemurkaan Allah.
Setiap perbuatan cinta seperti menyentuh kekasih, bersalaman, berdating, berpelukan dan bercanda adalah dilarang sebelum perkahwinan. Sebagai hamba Allah yang takut kepada kemaksiatan dan kehinaan hidup di dunia, pasangan kekasih hendaklah berasa malu untuk mempamerkan ‘cinta terlarang’ mereka kerana belum lagi diiktiraf oleh perkahwinan yang dituntut oleh syarak. Tetapi sebaliknya, apabila diikat dengan ikatan perkahwinan yang sah, perbuatan-perbuatan itu mendatangkan pahala dengan syarat suami isteri itu berusaha untuk menjaga batasan akhlak dan kesopanan tingkah laku apabila berada di khalayak ramai.
Cinta Selepas Bertunang 
Kebanyakan orang yang bercinta menyimpan hasrat untuk mempertahankan cintanya hingga ke jinjang pelamin. Ber-tunang adalah cara yang dilakukan bagi menyempurnakan janji untuk berkahwin. Ia adalah tanda pengabadian cinta yang suci dan tulus. Cinta dalam pertunangan besar ujiannya kerana godaan dan cabaran yang datang dari pelbagai pihak mampu merubah hati dan pendirian pasangan. Orang yang bertunang dikatakan ‘berdarah manis’ kerana mudah terjebak kepada gangguan perasaan dan terdedah kepada pelbagai cabaran. Oleh sebab itu pertunangan tidak digalakkan untuk tempoh yang lama mengikut adat masyarakat Melayu. Malah ia tidak perlu dihebohkan kepada semua orang kerana dikhuatiri pasangan itu berubah hati dan tidak jadi melangsungkan perkahwinan.
Bertunang tidak sama dengan berkahwin. Bertunang adalah ikatan tetapi ia belum diteguhkan oleh akad yang menghalal-kan segala perhubungan antara lelaki dan perempuan. Bertunang adalah tempoh suai kenal bukan tempoh memadu asrama. Maka orang yang sedang bertunang tidak boleh melanggar batas-batas agama kerana mereka masih belum ‘halal’ untuk sentuh-bersentuhan, cium-berciuman dan sebagainya. Pihak lelaki perlu menyedari mereka belum lagi menjadi suami, begitu juga pihak perempuan belum bergelar isteri. Maka berhati-hatilah dalam pergaulan kerana syaitan sentiasa menjadi orang ketiga yang tidak jemu menggoda dan cuba merosakkan cinta yang terbina.
Cinta Selepas Kahwin

Allah mengiktiraf cinta selepas perkahwinan sebagai yang terbaik dan sumber segala kesenangan dan kasih sayang sebagaimana yang dinyatakan di dalam Quran ayat 21 surah ar-Rum, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahawa Dia menciptakan isteri-isteri bagimu dari kalangan kamu sendiri supaya kamu dapat hidup tenang bersama mereka dan diadakan-Nya cinta kasih sayang antara kamu. Sungguh, dalam yang demikian ada tanda-tanda bagi orang yang menggunakan fikiran”.
Cinta selepas perkahwinan adalah cinta yang diredai dan dituntut oleh ajaran Islam. Cinta seharusnya berputik mekar selepas pasangan suami isteri itu mendapat mandat yang agung untuk bercinta melalui ikatan yang sah dan diiktiraf oleh agama dan juga anggota masyarakat. Bagi menyuburkan cinta selepas perkahwinan, maka pasangan suami isteri haruslah menghormati hak-hak dan tanggungjawab kepada yang dicintai dengan penuh kecintaan dan kasih sayang. Antara cara-cara untuk menyuburkan rasa cinta sebegitu adalah:
1.Membuktikan cinta melalui ketaatan, kasih sayang, pengorbanan dan kesungguhan memuliakan pasangan dan rumah tangga yang dibina. Pasangan suami isteri hendaklah sentiasa saling hormat-menghormati, menghargai perasaan dan tutur kata, sentiasa mendoakan kesejahteraan keluarga dan berusaha memelihara amanah dan janji yang dibuat.
2.Melahirkan zuriat sebagai bukti cinta yang terjalin. Sekiranya ditakdirkan tidak mempunyai zuriat, suami hendaklah bersabar dan tidak terburu-buru untuk berkahwin lain. Seharusnya usaha dilipatkan gandakan untuk mendapatkan zuriat baik secara tradisional mahupun secara perubatan. Sekiranya tidak berhasil, bolehlah mengambil anak angkat sebagai langkah alternatif.
3.Mengasihi dan menghormati ahli keluarga pasangan suami isteri. Bagi mewujudkan keluarga yang harmonis, perhubungan kedua-dua belah pihak hendaklah dijaga dan dipelihara sebaik mungkin. Sesekali, hadiah dapat dijadikan penghubung kasih-sayang dan tidak lupa untuk bertanya khabar sekiranya tidak berkesempatan untuk menziarahi keluarga yang jauh.
Seharusnya Cinta…
Insan yang beriman sering kali meletakkan sandaran yang kuat dan kukuh kepada Allah. Maka, dalam soal percintaan, sering kali mereka bersikap tenang dan menyerah diri kepada ketentuan Allah. Ini adalah kerana mereka yakin cinta datang dari Allah dan hanya Dia sahaja yang dapat menganugerahkan atau menghapuskan cinta itu. Allah adalah Pencipta kepada cinta, dan setiap penciptaan-Nya ada matlamat dan sebab kewujudannya, yang sering kali tidak cuba difahami oleh manusia.
Hanya segelintir sahaja yang memahami hakikat didatangkan perasaan cinta itu, iaitu kembali kepada asal matlamat kejadian manusia; untuk menyembah dan melakukan ketaatan kepada Allah. Tidak kira apa bangsa ataupun agama sekalipun, hakikat cinta adalah kembali kepada mengagungkan dan membesarkan Tuhan yang menciptakan segala cinta. Agama Islam, Kristian, Buddha, Hindu serta lain-lain agama tetap mengupas persoalan cinta sebagai sumber kedamaian hati dan keamanan dunia.
Realiti cinta menuntut pengorbanan daripada setiap individu yang berani untuk melibatkan dirinya dalam percintaan. Cinta penuh dengan air mata, aliran perasaan yang amat deras dan getaran yang mengilukan hati. Cinta juga penuh dengan keindahan, keselesaan, kehalusan perasaan dan kenikmatan jasmani mahupun rohani. Ini adalah kerana, cinta tidak hanya melibatkan perasaan semula jadi antara lelaki dan perempuan sahaja tetapi juga melibatkan perhubungan antara manusia dan Tuhan, manusia dan alam, serta manusia dan perbuatan.
Oleh yang demikian, insan yang beriman dapat mengelakkan diri daripada melakukan kesilapan dalam pergaulan, kekecewaan dalam percintaan, dan kehancuran dalam kehidupan. Mereka memahami hakikat cinta dan jenis-jenis cinta yang wujud dalam dunia ini, lantas menjadikan fikiran mereka lebih terbuka dan bijaksana dalam menangani soal percintaan. Penderitaan, penyesalan, dan kebencian tidak dijadikan sebagai sumber yang boleh memudaratkan diri dan hati, tetapi sebaliknya sebagai sumber yang memberi kesedaran dan keinsafan akan hakikat kehidupan yang sebenarnya.