Selasa, 31 Januari 2012

18 Amalan Penghias Hati Orang Mukmin Sejati

http://www.jahabersa.com.my/files/imagecache/product/PJ-0100L.jpg
Amalan-amalan Penghias Hati 

Upaya untuk memperbaiki amalan hati termasuk hal yang sangat penting dan kewajiban yang sangat ditekankan serta merupakan taqarrub dan ketaatan yang mulia dalam agama kita.
Seorang ulama yang bernama Ahmad bin Hasd ditanya, amalan apakah yang paling afdhal, beliau menjawab: “Apabila seseorang berusaha menjaga rahasianya, menjaga hati dan jiwanya agar tidak berpaling dari Allah SWT” Sepantasnyalah setiap muslim untuk selalu memperhatikan hatinya, berusaha memperbaiki hatinya, menegakkan hatinya untutk senantiasa berada ditempat-tempat yang dicintai dan diridhoi oleh Allah SWT serta menghilangkan dan membersihkan hati dari segala hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.Amalan-amalan hati itu banyak macamnya, di antaranya:
  • Mengikhlaskan agama dan ketaatan kepada Allah SWT.
  • Selalu bersifat nasehat dan setia kepada Allah SWT, begitu juga kita hendaknya selalu memberi nasehat kepada para hamba-hamba Allah, berbuat baik pada mereka dan hendaknya kita selalu membersihkan hati kita terhadap manusia dari segala macam sifat dengki, iri hati dan lain-lain.
  • Selalu berusaha untuk menghadirkan rasa takut dalam berdzikir kepada-Nya. Mengkhusyu’kan hati kita pada saat mendengarkan ayat-ayat Allah sebagaimana firmanNya dalam surah Al-Anfal ayat 2.
  • Bagaimana kita memantapkan rasa tawakkal kita pada Allah SWT kita menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah Segala urusan, kita serahkan pada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah QS. Mu’min ayat 44 “…. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah maha melihat akan hamba-hambanya”.Ada seorang ulama mengatakan bacaan ini bagus dijadikan do’a apabila kita merasakan ada ancaman-ancaman yang membahayakan . Termasuk juga bacaan yang bagus dibaca, saat rasa takut menimpa kita ialah: “Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung”. Begitu juga pada saat kita merasa kesukaran, kehidupan yang sempit, atau urusan kita selalu sukar atau sulit, bacaan yang bagus dibaca adalah doanya nabi Yunus ketika dia berada didalam perut ikan. Artinya :”Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim “(QS.Al-Anbiya:82). Ada seroang sahabat bertanya; Ya Rasulullah, apakah do’a ini hanya diperuntukkan kepada Nabi Yunus ? Rasulullah bersabda : Bahasanya do’a ini untuk semua orang-orang beriman. Jadi amalan hati yang baik adalah tawakkal. Dalam sebuah kitab : Tawakkal ibarat seekor kuda yang diberikan beban yang berat, lalu ia hanya bisa duduk dan diam tidak bisa bergerak, dia hanya pasrah kepada tuannya, begitulah seharusnya kita terhadap Allah SWT, pasrah dan berserah diri pada-Nya. “Tiada daya dan kekuatan hanya milik Allah” “Siapa yang benar-benar bertawakkal pada Allah, maka Allah cukuplah baginya”. Tapi disini juga kita dianjurkan untuk berusaha terlebih dahulu, sebelum bertawakkal.
  • Takut pada Allah diwaktu sendiri, maupun ditengah-tengah orang banyak.
  • Ridho pada Allah, Tuhan kita ; Islam sebagai agama kita dan Muhammad sebagai Nabi dan utusan Allah. Menerima semua aturannya dan segala konsekuensinya dengan hati yang ridho.
  • Kesiapan kita untuk menderita dengan penderitaan seberat-beratnya, itu lebih baik kita pilih dari pada kafir terhadap Allah.
  • Perasaan seorang hamba yang selalu merasa dekat pada Allah.
  • Selalu merasa adanya kehadiran Allah disetiap kehidupannya, contoh: ketika Nabi Yusuf dipenjara, beliau tidak pusing atau benci, malahan dia berdakwah dalam penjara, karena dia merasa kehadiran Allah disetiap waktu dan hidupnya. Tapi kita juga tidak boleh berfaham (dari kalimat Allah itu dekat) bahwa Allah dimana-mana, maksud dari Allah itu dekat bukan zatnya tapi ilmunya, penglihatannya, pengawasannya. Adapun Allah itu Maha Tinggi dan tidak ada satupun diatasnya.
  • Lebih memilih kecintaan kepada Allah dan RasulNya, dari pada kecintaan selain keduanya.
  • Cinta karena Allah dan benci karena Allah. Dalam satu hadits Nabi menyatakan: Ada 3 hal, jika ke-3nya dimiliki maka kita akan merasakan manisnya beriman, yaitu: ” Ia mengutamakan lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. ” Mencintai seseorang/sesuatu karena Allah. ” Ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan kedalam neraka.
  • Memberi karena Allah dan menahan karena Allah.
  • Segala gerak kita, diam kita selalu diperuntukkan karena Allah dan kelapangan hati kita dalam mentaati Allah baik berupa harta, badan dan tenaga kita.
  • Merasa senang dan gembira kalau sempat melakukan kebaikan dan perasaan sedih jika ia melakukan dosa dan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Siapa yang memiliki sifat ini, maka ia telah memiliki bibit keimanan dalam hatinya.
  • Sifat hati yang sangat mulia, kalau seseorang itu selalu memberikan kepeduliaan kepada orang-orang beriman baik harta maupun tenaga. Siapa-siapa yang mempunyai perasaan sedih atas penderitaan orang-orang beriman, ini berarti tanda-anda adana keimanan dalam hatinya.
  • Sifat hati yang mulia; banyak perasaan malunya, terutama malu melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan. ” Malu termasuk bagian dari iman. ” Iman dan malu selalu bergandengan.
  • Akhlak yang baik (khusnul Khuluk), amalan hati yang sangat baik dimana dia mencintai orang lain seperti dia cintai pada dirinya sendiri.
  • Merasa kecewa jika ada perbuatan maksiat yang dilakukan ditengah-tengah kita, juga kita tidak condong/berpijak/mengidolakan orang-orang kafir. Dalam suatu hadits Nabi bersabda : “Seseorang itu bersama idolanya di akhirat, maka jadikanlah idola kita Rasulullah, sahabatnya dan orang-orang shaleh, siddiqin, syuhada”. Inilah amal-amal yang selalu menjadi pusat pandangannnya Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dalam satu hadits Nabi : “Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk tubuh kamu, roman muka kamu, tetapi yang Allah pandang adalah hati kamu”. Perkataan ulama bernama Abu Hafsah : ” Apabila engkau duduk dihadapan manusia, maka hendaklah kamu menasehati hati kamu, jangan kamu tertipu dengan banyaknya oang dihadapan kamu, karena sesungguhnya mereka itu hanya melihat/memperhatikan kamu secara lahiiahmu, namun Allah selalu melihat hatimu”. Perkataan Umar bin Abdul Azis: “Andaikata kita tidak boleh memberi nasehat, kecuali kalau kita sudah sempurna, maka tidak ada orang yang akan memberi nasehat” Perkataan syekh Ibrahim: “Jangan sampai kita menyatakan kita tidak ingin berda’wah, karena kita belum sempurna, kata beliau; kewajiban kita pada ilmu ada 2 yaitu mengamalkan dan menyampaikan”.
Kesimpulan : Marilah kita berusaha meramaikan hati kita dan memperbanyak dalam hati kita amalan-amalan yang tidak dilihat manusia, tetapi Allah sangat memperhatikan amalan hati itu.




Rujukan:
  • http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=333&Itemid=193
  • http://peribadirasulullah.wordpress.com

Senin, 23 Januari 2012

Titik Awal

10 Muwasafat Tarbiyyah

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحَيْم


1)  Sehat tubuh badan (Qawiyyal Jism)
Dakwah adalah berat pada tanggung jawab dan tugasnya, maka di sini perlunya seorang da’ie itu tubuh badan yang sihat dan kuat. Rasulullah saw menitikberatkan soal ini, sabdanya:
Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dikasihi Allah dari mukmin yang lemah, tetapi pada keduanya ada kebaikan.
Kita juga hendaklah sentiasa memeriksa kesihatan diri, mengamalkan riadah dan tidak memakan atau minum suatu yang boleh dan diketahui merusakkan badan.
Mukmin yang sihat lebih di sukai daripada mukmin yang lemah. Makan apabila lapar dan berhenti sebelum kenyang, bersenam sekurang-kurangnya 20 menit 3 kali seminggu. Mengingat asas “self-defence”, menggali kekuatan serta potensi diri.

2) Akhlak yang mantap (Matinul Khuluq)
Akhlak kita ialah Al-Quran dan ianya terserlah pada diri Nabi saw. Telah dijelaskan beberapa unsur oleh Imam Al-Banna dalam kewajipan seorang da’ie yaitu bersifat sensitif, tawadhu’, benar dalam perkataan dan perbuatannya, tegas, menunaikan janji, berani, serius, menjauhi teman buruk dan lain-lain, berlomba berbuat kebajikan dan menjadi contoh orang sekeliling.

3)
 Fikiran yang berpengetahuan luas (Mutsaqqafal Fikri)
Seorang da’ie perlu berpengetahuan tentang dunia Islam dan maklumat am supaya mampu menceritakan kepada orang lain perihalnya di samping perlu bersumberkan kepada Al-Quran dan Hadis serta ulama’ yang thiqah. Pesan Imam Banna:
"Perlu boleh membaca dengan baik, mempunyai perpustakaan sendiri dan cuba menjadi pakar dalam bidang yang diceburi."

Selain itu, seorang da’ie perlu mampu membaca Al-Quran dengan baik, tadabbur, sentiasa mempelajari sirah, kisah salaf dan kaedah serta rahsia hukum yang penting.
Banyak membaca dan menulis, memiliki perpustakaan sendiri, senantiasa belajar sejarah, kuasai kemahiran terkini.


4) Mampu berdikari (Qadiran ala Kasbi)
Seorang da’ie walaupun kaya, perlu bekerja. Tidak mengharapkan kepada orang lain, beretika dalam berkerja, bekerja secara ihsan. Dia juga tidak boleh terlalu mengejar jawatan dalam kerajaan. Dalam keadaan tertentu, meletakkan jawatan dan meninggalkan tempat kerja mengikut keperluan dakwah lebih utama dari gaji dan pendapatan yang diterima. Selain itu, dia hendaklah sentiasa melakukan setiap kerja dengan betul dan sebaiknya (ihsan). Dalam soal kewenangan, menjauhi riba dalam semua lapangan, menyimpan untuk waktu kesempitan, menjauhi segala bentuk kemewahan apatah lagi pembaziran dan memastikan setiap sen yang dibelanja tidak jatuh ke tangan bukan Islam adalah beberapa perkara penting yang perlu dititikberatkan dalam kehidupan.

5) Akidah yang sejahtera (Salimul Aqidah)
Seorang da’ie semestinya redha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir. Sentiasalah muraqabah kepada Allah dan mengingati akhirat, memperbanyakkan nawafil dan zikir serta melakukan qiyamullail. Di samping itu, jangan dilupakan tugas menjaga kebersihan hati, bertaubat, istighfar, menjauhi dosa dan syubhat.

6) Ibadah yang sahih (Sahihul Ibadah)
Seorang da’ie perlu melakukan ibadah yang meninggikan roh dan jiwanya, perlu belajar untuk membetulkan amalannya dan mengetahui halal dan haram dan tidak melampau atau berkurang (pertengahan) atau dengan kata lainnya bersederhana dalam setiap urusan dalam kehidupannya.

7) Melawan nafsu (Mujahadah ala Nafsi)
Seorang da’ie perlu mempunyai azam serta amanah, janji yang kuat untuk melawan kehendak nafsunya dan mengikut kehendak Islam di samping tidak menghiraukan apa orang lain kata dalam mempraktikkan Islam yang sebenarnya. Perlulah diingatkan bahawa dai'e mungkin melalui suasana sukar yang tidak akan dapat dihadapi oleh orang yang tidak biasa dengan kesusahan dan kelalaian.Senantiasa berdo’a dan bertaubat. Memelihara diri dari maksiat dan kelalaian, tidak mambazir, tidur berlebihan, dan makan berlebih

8) Sangat menjaga masa (Haarithun ala Waqtihi)
Sentiasa beringat bahwa waktu, nilainya lebih mahal dari emas, waktu adalah kehidupan yang tidak akan kembali semula. Mengimbau kembali sejarah di zaman dahulu, para sahabat sentiasa berdoa agar diberkati waktu yang ada pada mereka. Menjaga kualiti sholat, bangun awal, sholat di awal waktu, menggunakan masa tertentu untuk belajar, dan mengisi waktu dengan mengingat Allah S.WT.

9)
 Tersusun dalam urusan (Munazzamun fi syu’unihi)
Untuk manfaatkan waktu dengan baik, maka timbulnya keperluan kepada penyusunan dalam segala urusan. Gunakanlah segala masa dan tenaga tersusun untuk manfaat Islam dan dakwah.Tak menangguhkan kerja, tak gopoh dan tergesa-gesa, buat kerja sebaik mungkin, bijak meletakkan prioriti kerja, menjaga penampilan, berdisiplin, berbicara baik atau diam, dan menyempurnakan kerja sebaik mungkin.

10) Berguna untuk orang lain. (Nafi’un li ghairihi)
Da'ie umpama lilin yang membakar diri untuk menyuluh jalan orang lain, dan umpama seperti sebatang pohom kurma, apa pun yang diambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu. Da'ie adalah penggerak kepada dakwah dan Islam. Masa depan Islam, hidup dan terkuburnya Islam bergantung kepada da’ie. Amal Islam seorang da’ie ialah untuk menyelamatkan orang lain daripada kesesatan. Da'ie akan sentiasa merasa gembira bila dapat membantu orang lain. Paling indah dalam hidupnya ialah bila dapat mengajak seorang manusia ke jalan Allah.


Sabtu, 14 Januari 2012

Islam itu indah

---¤¤¤ IKHWAN & AKHWAT SEJATI ¤¤¤---
























IKHWAN SEJATI


Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari BAHUnya yang KEKAR
tetapi dari KASIH SAYANGnya
pada ORANG SEKITAR

Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari SUARAnya yang LANTANG
tetapi dari KELEMBUTANnya
mengatakan KEBENARAN

Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari JUMLAH SAHABAT di sekitarnya
tetapi dari SIKAP BERSAHABATnya
pada GENERASI MUDA BANGSA

Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari bagaimana dia DI HORMATI DI TEMPAT KERJAnya
tetapi bagaimana DI HORMATI di dalam RUMAH

Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari KERASnya PUKULAN
tetapi dari BIJAKnya MEMAHAMI PERSOALAN

Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari DADAnya yang BIDANG
tetapi dari HATI yang ada di BALIK itu

Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari BANYAKnya AKHWAT yang MEMUJAnya
tetapi KOMITMENTnya terhadap AKHWAT yang di CINTAnya

Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari JUMLAH UJIAN yang DIBEBANKAN
tetapi dari TABAHnya dia menghadapi LIKU-LIKU KEHIDUPAN

Ikhwan sejati bukanlah di lihat
dari KERASnya membaca AL-QUR'AN
tetapi dari KONSISTENnya dia MENJALANKAN apa yang ia BACA


AKHWAT SEJATI


Akhwat sejati bukanlah di lihat
dari KECANTIKAN PARAS WAJAHnya
melainkan dari KECANTIKAN  HATInya yang ada dibaliknya

Akhwat sejati bukanlah di lihat
BENTUK TUBUHnya yang MEMPESONA
melainkan DI LIHAT bagaimana ia MENUTUPI BENTUK TUBUHnya

Akhwat sejati bukanlah di lihat
dari BANYAKnya KEBAIKAN yang ia BERIKAN
melainkan dari KEIKHLASANnya memberikan KEBAIKAN itu

Akhwat sejati bukanlah di lihat
dari SEBERAPA INDAH LANTUNAN SUARAnya
melainkan dari apa yang sering MULUTnya BICARAKAN

Akhwat sejati bukanlah di lihat
dari KEAHLIANnya BERBAHASA
melainkan dari bagaimana CARA ia BERBICARA

Akhwat sejati bukanlah di lihat
dari KEBERANIANnya dalam BERPAKAIAN
melainkan sejauh mana ia MEMPERTAHANKAN KEHORMATANnya

Akhwat sejati bukanlah di lihat
dari KEKHAWATIRANnya DI GODA orang dijalan
melainkan KEKHAWATIRAN dirinyalah yang MENGUNDANG orang jadi TERGODA

Akhwat sejati bukanlah di lihat
dari SEBERAPA BANYAK dan BESARnya UJIAN yang ia alami
melainkan sejauh mana ia MENGHADAPI ujian itu dengan RASA SYUKUR