Rabu, 28 Desember 2011

Hadiah Syukur Untuk -Mu


Tiap-tiap yang diciptain sama Allah itu hebat. Allah nggak mungkin buat sesuatu yang sia-sia. Percaya deh. Mau bukti ???

Manusia terpendek di dunia, awalnya mereka berpikir untuk apa diciptakan Tuhan sekecil dan sependek itu. Tapi akhirnya, mereka-mereka yang pendek tersebut bisa mensyukuri kekurangannya yang lantas menjadi suatu kesyukuran. Mereka bisa mendapatkan rekor dunia, dianggap orang unik, terkenal. Bukankah begitu...???

Pun sebaliknya manusia yang tertinggi. Di balik ketinggiannya, orang-orang yang di sekitarnya bisa dibuat susah. Mau buat ukuran pakaian yang gede, sandal yang gede, nyiapin makanan yang porsinya lebih besar. Wahh, gawat juga kan??

Dalam surat Ar-Rahman, berkali-kali Allah mengulang kalimat "Maka nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan??"

Apakah kurang, pengertian dan pengajaran yang Allah berikan kepada kita?

Allah ciptakan yang buta, begitu banyak kebaikan padanya. Ia dijauhkan dari maksiat mata yang menuntun pada zina. Ia diberikan kesempatan lebih besar untuk menjadi salah satu penjaga kitab-Nya. Luas samudra waktunya, memberikan kesempatan bagi mereka. untuk berkarya dengan kekurangangannya. Ia bisa besar dengan sabar. Bisa besar dengan kekurangan. Bisa besar dengan syukur. Bukankah Allah lebih sayang pada mereka. Kurangnya mata mereka di dunia, Allah menggantinya sepasang mata indah nan jernih di Surga. Berbahagialah yang buta, Allah berbahagia menunggu anda di surga.

Untuk yang tidak merasakan nikmat pendengaran di dunia, Allah sayang kepada kalian saudaraku. Allah tidak ingin kalian mengetahui kedengkian karena kami saling menghina. Membenci, menoreh cicip-cicip luka pada saudara sendiri. Kalian dijaga Allah mendengar sesuatu yang haram. Andai kalian tahu, dunia ini penuh dengan kata-kata yang tidak ada dalam kamus. Banyak di antara kami yang seenaknya membuat sendiri dan diperdengarkan pada sesamanya. Mereka terlalu bangga.... Mereka senang membuat yang lain terluka. Aku pun terluka bila mendengarnya. Bahkan aku coba pula mendengarkannya pada temanku. Beruntunglah kalian, beruntunglah kalian yang bertelinga, Allah telah menyimpan telinga kalian agar hanya mendengarkan untaian kata para penghuni surga.

Saudara-saudariku yang bisu, hadirkan syukur mu pada Allah. Allah menjaga lisan mu dari berkata yang dusta, kata-kata yang sia, kata yang memancing murka-Nya, kata yang mengandung fitnah. Hei, indah bukan nikmat itu?

Lihatlah kami yang Allah cukupkan nikmat kesempurnaan itu. Mata kami diciptakan indah oleh-Nya. Bukannya kami syukuri dengan melahap kenyang pesan-pesan yang disampaikan-Nya melalui jibril, tapi kami gunakan untuk melahap gambar2 yang memuas nafsu, melihat yang haram, berdecak indah atas senandung alam ciptaan Allah, namun lupa dengan kata "Subhanallah".

Telinga kami pun begitu adanya. Ia penaka stasiun relay yang setiap ada di mana pun, menangkap gelombang elektromagnet dan dibungkus dalam modulasi frekuensi. Mendengar setiap kesalahan sesama, dibungkus dan diberikan pada yang lainnya. Tak ubahnya ia merupakan bekal dalam kotak makanan yang siap di bawa ke sekolah setiap hari. Telinga kami pun entah mengapa selalu siap mendengar lagu-lagu jahiliyah yang ditiupkan orang-orang barat secara perlahan dengan arogansinya. Padahal ada kaset-kaset murattal Al-Qur'an yang bisa memberi percikan-percikan keindahan dalam suaka rahmat dan maghfirah Allah. Selalu saja, dipendam dalam rak-rak kaset sebagai koleksi rumahan.

MasyaAllah, yang satu ini pun, kadang tak terkalahkan peri-nya. "LISAN". Ada yang bilang, karena lidah tak bertulang lah, ataupun sebagainya. Intinya mengisyaratkan kalau ia memang benar-benar berbahaya. Ghibah, fitnah, namimah selalu mendominasi keinginannya untuk dilakukan. Padahal dalam hadits arba'in, kita sudah sering mendengar "...Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam". Kalau kita merujuk kepada hadits ini, apakah kita benar-benar telah dikatakan "Beriman" kepada Allah dan yaumil akhir-Nya?? Sedikit sekali orientasi yang bisa kita berikan melalui karunia Allah yang satu ini. Padahal ada kekuatan luar biasa darinya.

Rasulullah bisa mengubah dunia, bukankah dengan seruannya atas izin Rabb-Nya?? Disamping akhlaq karimahnya.
Syekh Ahmat Deedat, ia adalah seorang kristolog muslim yang berdebat dan mematahkan argumen-argumen musuh islam dengan lisannya.
Guru pun menguraikan ulasan-ulasan ilmunya, agar kelak anak didiknya menjadi seorang yang berguna. Dengan lisan kah???

Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata,
"Hai Muhammad, hiduplah sesuka mu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesuka mu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin tergantung shalat malamnya dan
kehormatannya tergantung dari ketidakbutuhannya kepada orang lain." (HR. Ath-Thabrani)



sumber:http://pengagum-mimpi.blogspot.com/2010/09/petualangan-syawal-ketiga-dan-nikmatnya.html

Ga Nyontek, Siapa Takut...???!!!


Saat saya membuat postingan ini, jujur, belum spenuhnya yg saya laksanakan, tapi keinginan saya agar kita bisa melaksanakannya bersama-sama,,

Pasti ada perasaan kecewa kita, saat mengetahui sekolah yang kita cinta masih dipenuhi oleh budaya yang marak terjadi. Dalam hal ini “Mencontek; Kerjasama,Melihat jawaban orang lain, dsb”. Dan yang lebih menyakitkan lagi para pelakunya sendiri adalah para pelajar yang notabene tahu tentang mencontek lebih jauh.

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda;

“Sesungguhnya Allah itu Maha baik, dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana Dia memerintahkan kepada para Rasul".

Allah SWT berfirman, “Hai para Rasul, makanlah segala sesuatu yang baik dan lakukanlah pekerjaan yang baik."(QS. Almukminun:51)

Allah SWT jga berfirman,’Hai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik dari yang telah kami rezekikan kepadamu "(QS. Al-Baqarah:172)

Rasulullah bercerita tentang seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, hingga rambutnya kusut dan kotor. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a,’Ya Rabb, Ya Rabb,’ Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan perutnya kenyang dengan barang haram, maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan” (HR.Muslim)

Mungkin, belum kita sadari sepenuhnya, akibat dari perbuatan tersebut akan berujung panjang. Dan belum pernah kita renungi ayat Allah yang menjelaskan bahwa yang menurut kita itu baik, tapi belum tentu baik menurut Allah. Dan yang buruk menurut kita adalah hal yang terbaik bagi Allah untuk kita. (Al-Baqarah:126) Pikirkanlah, hasil dri nilai tersebut yang menurut kita tinggi, itu hanya penilaian dari manusia, penilaian dari Allah jauh lebih baik ketimbang pnilaian manusia.

Umpamanya saat kita melakukan perbuatan tersbut (halal??) lalu kita mendapatkan nilai tinggi (penilaian manusia) selanjutnya kita masuk kuliah (halal???)berikutnya kita kerja (dari nilai halal???)bagaimana nafkah yang akan kita berikan pada keluarga(halal????)

Bayangkanlah......

Dari satu tindakan, tindakan yang lain akan tercemar dan menghabiskan banyak waktu dalam hidup kita, bahkan bisa berlanjut kepada keturunan kita. So???

Masih berani nyontek???

Ada sedikit tips, buat percaya sama diri sendiri dan yakin kita bisa lebih baik dari orang yang nyontek:

1. Yakin kalau Allah itu ada. Allah selalu di pihak yang benar. Allah bakal bantu kita untuk melakukan perbuatan baik.

2. Niat. Sebagai muslim yang baik, setiap perbuatannya niatkan karena Allah, untuk agama. Bersitkan cita-cita kita untuk menjadi salah seorang yang menjayakan islam (apa kita mau selamanya dijajah sama orang NasR**i????). Selain itu ingat orang tua kita yang sudah sekuat tenaga biayain kita, nafkahin kita supaya anaknya bisa berhasil.

3. Jangan mudah tergoda dengan hal-hal yang sifatnya melenakan. ex: nonton berjam-jam, OL lama2, dengerin musik yang gak ada manfaatnya, dll

4. Pasang target tertinggi kita di sekolah, dunia, dan akhirat. ex: di sekolah: juara kelas dan aktif organisasi, di dunia: jadi seorang dokter, hafal qur’an, orang kaya yang rajin berderma, di akhirat: masuk syurga lewat pintu puasa misalnya,

5. Realisasikan target'2 kita. Kalau mau jadi juara kelas tiap hari min. blajar 2 jam, mski besoknya gak belajar di sekolah, kalau mau jadi seorang yang hafiz qur’an: tiap hari setidaknya hafalin 2 ayat, kalau mau msuk syurga lewat pintu puasa: Rajin puasa Sunnah. Bila perlu catat di note kecil kita, tempel di kamar, atau diingat2 trus,

6. Jangan pernah melupakan Allah, banyakin ibadah (rasakan bedanya saat kita dekat sma Allah dan saat kita sedang malas ibadah), seperti lail, duha, shaum, al-ma’tsurat, dsb

7. Sering berdo’a di  waktu-waktu yg dimakbulkan u/ berdo’a ; rakaat terakhir dalam shalat, antara azan dan iqamat, saat 1/3 mlam terakhir, dll

8. Kalau semuanya sudah dlakukan, sekarang tinggal tawakkal kepada Allah, optimis Allah beri yang terbaik untuk kta...

Intinya, kalau di dunia kita pengen berhasil, harus jaga diseimbangin oleh amalan2 kita. Karena sesungguhnya kekuatan orang beriman itu ada di sana. Dan ingat di dunia, tempat sementara, tujuan kita yang utama itu untuk ke akhirat.



sumber: http://pengagum-mimpi.blogspot.com/2010/08/ga-nyontek-siapa-takut.html

Sudah Hebatkah Kita...???


Dekade belakangan kini, kita bisa merasakan bnyak arus perubahan di masyarakat kita, terutama yang menyangkut masalah moral dan kebudayaan. Dan perubahan itu bukan hanya perubahan kecil yang bisa dianggap sepele, namun benar2 mrupakan prubahan yang sangat signifikan.

Masyarakat kita sekarang cendrung tidak pernah menghargai pendapat seseorang. Mungkin bisa kita lihat di lingkungan sekitar kita. Saat ada sseorang yang ingin menyampaikan pendpatnya, dengan seenaknya mulut kta mengatakan “Saya tidk stuju dengan pendapat anda.”. Bahkan yg lbih menyedihkan lgi, blum sempat pernyataan itu keluar, kita sudah mengklaim pendapat kita yg spantasnya diikuti, tanpa memikirkan bgaimana perasaan orang tersebut.

Jika dibandingkan dg etika bangsa kita sbelumnya yang selalu menghargai seseorang, masyarakat kini sungguh tidak dewasa dlam menilai keputusan. Begitu banyak contohnya permasalahan yg dialami oleh negara kita. Seperti permasalahan yg kerap kali menjumpai pemerintahan bangsa kita.

Apakah kita pernah berpikir untuk mencarikan solusi2 yg bermanfaat yg bisa mengembalikan kondisi sperti semula?? Sepertinya lisan kita kini selalu termotivasi untuk mengkritisi, mencerca, dan menghina. Kita tidak pernah mengetahui, terkadang susahnya seseorang menyelesaikan problem2 yg dialami. Dan dengan lancangnya kita mengatakan, “Ahh, bagaimana mereka itu! Urus masalah ini saja tidak bisa!!! Siapa suruh kemarin jdi politisi, birokrat atau yg lainnya.

Bukankah dg memberikan solusi permasalahan itu akan selesai teman??? tanpa harus mengungkit, mengungkit dan mengkritisi lebih jauh. Lebih baikkah kita dri orang yang kita kritik??? Sempurnakah diri kita hingga semuanya harus sesuai dg keinginan kita???

Sadarkah kita pula, bahwa sekarang media masa pun tak lepas dari bahasa mengkritisi, baik televisi, majalah, koran, dan media lainnya. Kita ambil contoh tentang kasus kriminal. Saat kita membaca, melihat, atau menontonnya, yang ada di pikiran kita pasti hanya ingin mengecam para prilaku kriminal. Tanpa ada suatu solusi, hikmah, atau pelajaran yg bisa kita dapat. Sehingga dg munculnya satu kasus kriminal terbaru, akan menjadi contoh bagi orang lain dan muncul berkelanjutan di tempat yg lain.

Semoga bangsa kita bisa berubah ke arah yg lebih baik. Baik persatuan atau ukhuwahnya, akhlak dan moralnya, agamanya, kecerdasannya, kemajuannya, birokrasi dan pemerintahannya, media masanya. Aamiin, aamiin ya Rabb. Mulai sekarang, bisakah kita menjaga lisan kita untuk tidak menyakiti??? Semoga dimulai dari diri kita sendiri akan membawa perubahan. Karena Allah sendiri juga menjanjikan di dlam Al-Qur’an. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum ia sendiri yg mengubahnya.”



sumber: http://pengagum-mimpi.blogspot.com/2010/08/sudah-hebatkah-kita-ekade-belakangan_03.html

Mimpiku dalam Dekapan-Nya



Disaat hakikat Allah Sang Pemilik Mimpi belum tiba di sel otakku... Awalnya ku tak pernah mempercayai mimpi.... Yang ada hanyalah sebuah tanda "kebetulan"... Kebetulan saja ia bisa jadi ini, itu... Kebetulan saja ia bisa mendapatkan ini, itu...

Akhir-akhir ini, begitu banyak kulihat dengan murah hatinya Allah mengabulkan begitu banyak impian hamba-hamba-Nya. Meski aku tidak merasakan secara langsung sebagai seorang yang terkabul mimpinya. Tapi, itu wajar saja karena AKU BELUM BERMIMPI.

Allahurabbi, baru kusadari begitu baiknya kau taburkan berjuta impian makhluk-Mu. Meski kadang impian kami jauh dari ingat pada hari akhir kelak. Meski begitu banyak impian duniawi yang membelai mata kami. Jauh dari ingatan mencari kejayaan diinul islam ini. Bahkan terkadang, indahnya surga tak mampu memeluk hati kami untuk tetap mencintai-Mu Illahku.....

Saya punya kisah seorang guru SMP saya yang berhasil sedikit demi sedikit mencoret daftar mimpinya. Kisahnya, silahan klik link ini http://www.manthono.web.id/2010/08/satu-lagi-mimpi-tercoret-kuliah-di.html

I am very interested about the wonders of a dream. Sungguh, jika kita bermimpi besar, Allah yang Maha Besar akan mengabulkan mimpi-mimpi itu. Tentunya dengan usaha maksimal, ikhtiar dan berdo'a.

Bermimpilah, Allah selalu mendengar mimpi-mimpimu.....

Bermimpilah kau tetap dalam istiqamah di jalan-Nya, berharap kau dipanggil saat khusnul khatimah...
Bermimpilah bahwa kau selalu memberikan kontribusi yang unik, karena setiap cipta-Nya adalah makhluk yang unik....
Bermimpilah kau akan kelilingi dunia, tafakkuri indah panorama kekayaan alam dunia-Nya...
Bemimpilah kau akan menjadi salah satu syuhada dengan berperang di jalan-Nya, karena darahnya kau akan mencium bau surga...
Bermimpilah kau menjadi salah seorang muslim yang berbahagia, sehingga dengannya kau akan membuat orang lain menjadi bahagia...
Bermimpilah kau menuju Baitullah, kau bisa mendo'akan orang-orang yang merindu ingin kesana...
Bermimpilah kau menjadi seorang penjaga kitab mulia-Nya, karena kau adalah satu bagian keluarga-Nya dan kau bisa mempersembahkan mahkota luar biasa kepada kedua orang tuamu di surga...
Bermimpilah menjadi salah satu ilmuwan muslim terhebat, tunjukkan bukti nyata kebenaran Al-Qur'an pada dunia...
Bermimpilah kau menjadi seorang pejabat yang adil, bijaksana, buat orang nasrani terkesima saking hebatnya...

Daftarkan semua mimpi-mimpimu, penuhi otakmu memikirkan bagaimana strateginya, lakukan ikhtiar sekuat tenaga, tawakkal jalan terakhirnya, yakin Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang tak terjangkau oleh pikiran manusia. Optimis, selalu ada Allah yang selalu bersama kita.

Satu yang jangan pernah dilupa, bermimpilah untuk akhiratmu, karena ia kehidupan abadimu selamanya.

Bermimpilah agar Allah menetapkan keimanan di dalam hatimu agar kau selalu mengingat-Nya, merindukan bertemu Rasulullah SAW dan mendapatkan syafaatnya. Satu yang terbesar agar kau bisa bertemu dengan MAHA segalanya dengan segala keridhoan di dalam surga. Aamiin....

"Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan di langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong" (Al-Baqarah:107)

Lantas, apakah ada sesuatu yang mustahil bagi Allah untuk mewujudkan impian hamba-Nya???

Selalu ingatlah Allah bersama kita. Allahu ma`ii, Allahu ma`ii......




sumber: http://pengagum-mimpi.blogspot.com/2010/08/daftarkan-mimpimu-pada-sang-pemilik.html

Istikharah yang Terlupa


"Kamu udah yakin ya neng, mau masuk FK UGM???" tanyaku. "Enak ya, udah jelas arah dan tujuannya." Sahut temanku yang lain.
"Iya mae, do'ain ya...." jawabnya.

Hehe, itulah kira tema pembicaraan yang sering diucapkan saat kelas 3 SMA ini. Sebagian sudah tau mau pilih universitas dan fakultasnya. Dan sebagian lagi masih memenuhi otaknya dengan obsesi-obsesi besar yang akan dicapai. Namun ada pula yang tak jelas ke mana arah dan tujuannya nanti. (Gubrak,, parah yak.....). Contohnya : AKU.

Tiap ada waktu senggang, kami masih sering asyik-asyik berangan-angan, berbagi cerita dari kakak kelas terdahulu, dan berbagi informasi mengenai universitas.

"Waduh,, kira-kira, aku mau masuk mana ya?"
"Kamu suka pelajaran apa mae?"
"Kalau suka sih kimia"
"Kalau nggak farmasi, kimia murni, teknik kimia, atau FKIP..."
"Tapi, kalau farmasi tanggung, enak ambil kedokteran. Kimia murni sama teknik kimia, nggak boleh sama ummi. FKIP, nggak mau ah, jadi guru atau dosen."
"Terus, mau masuk apa??'' "Itu dia, aku bingung."

Aku terlalu sering menanyakan hal itu kepada teman-temanku. Tapi aku belum puas mendapatkan jawaban dari mereka. Suatu hari, barulah teringat oleh ku untuk melakukan shalat istikharah. Shalat yang selama ini terlupa karena sedari dulu aku belum pernah melaksanakannya. Karena aku belum pernah merasakan keraguan yang amat sangat. Shalat yang bukan hanya dilakukan oleh orang yang sedang dikhitbah saja....

Oalah, kenapa aku terlupa akan luasnya ilmu-Mu ya Rabb...... Yang hanya Engkaulah yang mengetahui baik buruknya untuk diriku.

Istikharah = memohon agar dipalingkan perhatian kepada apa yang dipilih Allah Swt. Untuk shalat istikharah, sama halnya dengan shalat sunnah dua rakaat biasa. Bebas memilih bacaan ayat Qur’an seusai Al-Fatihah. Tidak ada dalil kuat yang mengkhususkan bacaan ayat Qur’an dalam salat istikharah. Yang khusus hanyalah doa istikharah;
Allaahumma, innii astakhiiruka bi’ilmika, wa astaqdiruka biqudratik. Wa as-aluka min fadhlikal ‘azhiimi, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allaahumma, in kunta ta’lamu anna haadzal amra khairul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, faqdurhu lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiih. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amra syarrul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, fashrifhu ‘annii, washrifnii ‘anhu, waqdur liyal khaira haitsu kaana, tsumma radhdhinnii bih.
Terjemah doa istikharah:
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan [yang tepat] kepada Engkau dengan ilmu [yang ada pada]-Mu, dan aku memohon kekuasaan-Mu [untuk menyelesaikan urusanku] dengan kodrat-Mu.


Dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib.


Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.
Dan sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih buruk pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka jauhkanlah urusan ini dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.

Doa istikharah itu boleh diucapkan secara hafalan atau pun dari lembaran kertas. Doa itu dapat dibaca di dalam salat atau pun sesudah salat.

Bagi yang berhalangan (misalnya lantaran haid), istikharahnya cukup dengan baca doa istikharah tanpa salat.

Seusai istikharah, kerjakan pilihan sesuai kecenderungan hati sanubari [atau akal sehat]. Tidak perlu menanti mimpi. Bila kurang mantap, lakukan istikharah lagi.

copas tata cara shalatnya dari:

http://salatsmart.wordpress.com/

Akasia Ramadhan yang Menyeruak Rindu


Yang kutahu hanya kesedihan saat mendengar berita itu. Yang kusesali kenapa tidak dari dulu ku tetap di sisinya, mengayominya, mendengarkan seluruh curhatan, kisah, atau apalah yang sering ia katakan bila aku datang.

Kini baru kusadari, aku benar-benar mencintainya setelah Rabbku, Rasulku, ummi dan abiku. Bahkan sering kurasakan, ia lebih mencintaiku dari pada orang tuaku. “Ya Allah, aku cinta dia....... “ Jujur, sering bulir air mata ini jatuh tak sengaja karena kini ia telah pergi. Bahkan aku sering memiliki harapan konyol, kenapa Allah tidak menghidupkan ia kembali. Tapi sangat kuyakin itu tak mungkin. Karena kutahu dari Yang Maha Mencinta Hamba-Nya, yang lebih mencintaiku darinya, sesungguhnya “Kullu nafsin dzaa iqatul maut”.

Aku sering berusaha sekuat tenaga menegarkan diriku,, mengusap-usap tetesan kesedihan dengan punggung tanganku, memohonkan kebaikan untuk dirinya. Agar kelak ku dipertemukan dengannya. Kusadari kusering berlarut-larut dalam ujian yang diberi-Nya.

Tak kusangka, ramadhan lalu, adalah ramadhan terakhir kubersamanya. Bersama-sama membangun tumpukan amal, merajut indahnya emas cinta bersama dengan-Nya, saling memotivasi tentang hakikat indahnya bulan itu. I Love You Because of Allah....



sumber : http://pengagum-mimpi.blogspot.com/2010/07/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Menjaga Kehormatan Diri


Assalamu’alaikum wr.wb,

Salam ukhuwah, semoga Allah selalu menetapkan ni’mat islam n iman y agar kita tetap selalu istiqamah di jalan-Nya.

Ada sebuah kisah dari seorang akhwat,

Ini bermula dari dia melakukan chatting dg lawan jenis y. Awalnya, niat y biasa saja, hanya karena ingin menjawab salam. Karena stiap orang yg melakukan chat dg dirinya selalu mengawali y dg salam.
Namun, anehnya, pertanyaan ataupun pernyataan setelah salam itu, selalu menarik perhatiannya. Baik berupa ucapan terimakasih, menanyakan kabar, hingga sesuatu yg diketahui oleh seseorang tentang dirinya. Seperti “Syukron ya…” , “Apa kabar??”, “Eh, kamu mau buka toko y??”.

Awalnya, akhwat tersebut terpaksa menjawab pertanyaan2 yg dilimpungkan oleh y. Ia janji, hanya menjawab pertanyaan itu saja dan untuk tujuan yang baik saja. Namun, setelah berlanjut dan terus berlanjut,, pertanyaan yg ditujukan kepada y sudah mulai keluar dari koridor.

Si akhwat dan si ikhwan pun mulai saling memotivasi, memberi info, dan sebagainya. Sepertinya mereka mulai santai melakukan hal tsb. Sekarang, setan sudah mulai membisiki mereka untuk bertukar nomor, berlanjut pada sms an, dst.

Suatu hari, si akhwat baru menyadari ada yang aneh pada dirinya. Perlahan ia menyadari, bahwa ia mulai suka kepada ikhwan yang mengajaknya chatting. Pada selama ini, ia anggap itu biasa saja. Astaghfirullahal’adzim….

Tahukah anda ikhwan, bahwa wanita itu lemah dan mudah ditaklukkan. Sebagai saudara kami, tolong, jaga kami. Karena kami akan kuat menolak rayuan preman, tapi bisa jadi kami lemah dengan surat cinta kalian.

Tolong, kami hanya ingin menjaga diri. Menjaga amal kami tetap tertuju pada-NYa. Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.

Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu.
Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu.
Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu.
Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu.
Jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu.

Antum memang bukan Mush'ab
Antum juga tak sekualitas Yusuf ,

Tapi Antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova. Karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah: segeralah menikah atau jauhi wanita dengan puasa

Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahi-NYA? Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhai-NYA?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita” (HR Bukhari no 4808 dan Muslim no 2740 dari Usamah bin Zaid).

Ini adalah jawaban yang akhwat tersebut dapatkan, dan akhirnya berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Dan ia bertaubat kepada Allah atas perbuatannya.

Tanya: Apakah boleh mengajak aku ngobrol via chatting?
Jawab:
Wahai saudaraku, hal ini tidaklah dibolehkan. Hubunganmu dengannya semula adalah chatting lalu berkembang menjadi komunikasi langsung via telepon dan ujung-ujungnya adalah ungkapan cinta. Apakah hanya akan berhenti di sini?
Semua hal ini adalah trik-trik Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam hal-hal yang haram. Bersyukurlah kepada Allah karena Dia masih menyelamatkanmu. Bertakwalah kepada Allah, jangan ulangi lagi baik dengan perempuan tersebut ataupun dengan yang lain.

Tanya: Apa hukum seorang laki-laki yang chatting dengan seorang perempuan via internet dan yang dibicarakan adalah hal yang baik-baik?
Jawab: Tidak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan fatwa yang bersifat umum untuk permasalahan semisal ini karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-masak. Fatwa yang bisa saya sampaikan kepadamu adalah obrolan dengan lawan jenis yang semisal kau lakukan adalah tidak diperbolehkan. Bukti nyata untuk hal ini adalah apa yang kau ceritakan sendiri bahwa hubunganmu dengan perempuan tersebut terus berkembang ke arah yang terlarang.

copas:

http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp
http://www.facebook.com/notes/ummu-salwaa/untukmu-cowopriaikhwandan-semacamnya/404007763787

Berdialog dengan “SATU DETIK”




Pada suatu hari aku duduk dan menghadapkan hati ini kehadirat Allah sambil menyesali rentangan usia yang telah kulalui. Kupanggil satu detik waktu dari hidupku. Aku katakana kepadanya:
@Aku harap agar engkau mau kembali kepadaku, supaya aku dapat menggunakanmu untuk kebajikan.

#Sesungguhnya tidak ada waktu yang sudi berkompromi untuk berhenti

@Wahai detik……. Aku memohon, kembalilah kepadaku agar aku dapat memanfaatkanmu dan mengisi kekuranganku pada dirimu

#Bagaimana aku dapat kembali kepadamu, padahal aku telah tertutup oleh perbuatanmu?

@Coba lakukan hal yang mustahil itu dan kembalilah kepadaku! Betapa banyak detik-detik selainmu yang juga kusia-siakan.

#Seandainya kekuasaan ada di tanganku, pastilah aku kembali kepadamu, namun tiada kehidupan bagiku. Dan aku terlipat oleh lembaran-lembaran amalmu dan diserahkan kepada Allah SWT

@Apakah mustahil, jika engkau kembali kepadaku, padahal saat ini engkau sedang berbicara kepadaku?

#Sesungguhnya detik-detik dalam kehidupan manusia, ada yang dapat menjadi kawan setianya dan adakalanya ia menjadi musuh besarnya. Aku adalah detik-detik yang menjadi musuhmu dan yang akan menjadi saksi atasmu di hari Kiamat kelak. Mungkinkah akan bertemu, suatu orang yang saling bermusuhan?

@Duhai, alangkah menyesalnya aku. Betapa aku telah sering menyia-nyiakan detik-detik dalam perjalanan hidupku! Tetapi sekali lagi kumohon sekiranya engkau sudi kembali kepadaku, niscaya aku akan beramal shaleh “di dalammu” yang pernah kutinggalkan.

Maka detik itu pun terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku lantas memanggilnya:

@Wahai detik, tidakkah engkau dengar panggilanku?? Kumohon jawablah…

#Wahai orang yang lalai akan dirinya, wahai orang yang yang menyia-nyiakan waktunya…Tahukah engkau, saat ini, demi mengembalikan satu detik saja, engkau telah menyia-nyiakan beberapa detik dari umurmu. Mungkinkah engkau dapat mengembalikan mereka pula?? Namun aku hanya berpesan kepadamu,”Sesungguhnya segaala perbuatan yang baik itu menghapuskan(dosa) segala perbuatan yang buruk.

(Izin copas ya,, dari buku Efisiensi Waktu, oleh Jasiem M. Badr al-Muthawi’)

Setelah kita menyimak dialog tersebut, sadar kah kita. Sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk melakukan hal yg tidak penting?? (dengerin lagu jahiliyah, baca novel yg tema2 y seputar cinta, dllsb, gangguin tmen) Bukan hanya sekedar sedetik atau beberapa detik,, kalau kita hitung, tidur kita tiap hari saja sudah 8jam dri 24 jam, berarti 1/3 hari kita hanya untuk tidur,, dan sampai usia kita berakhir kita, kita juga sudah menghabiskan 1/3 usia kita sekedar “TIDUR”, belum lagi kalau kita punya jam tidur tambahan di siang hari.

Waahhh….. waktu ibadah kita mana?? Coba deh, hitung, tiap hari shalat 5 kali X 5 menit=25 menit. Itu hanya sepersedikit dari 1 hari kita. Syukur deh kalau kita punya waktu tambahan untuk ibadah. Atau kita sering terlupa,, hidup kita di dunia sebenarnya,, prioritasnya untuk akhirat kita teman…..

Apa kita juga lupa kalau syurga itu indah??? Rugi dunk, kalau kita di dunia bahagia, tapi di akhirat sengsara ( bener kan??)

“Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mau mendengar (petunjuk yg baik) atau menggunakan akal, niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala (Al-Mulk:10)

Semoga kita tidak termasuk golongan orang2 tsb. Aamiin ya Rabb..

Ada baiknya waktu yang kita miliki kita manfaatkan sebaiknya. Seperti menolong orang lain dalam kebaikan, bergabung dengan orang-orang yg shaleh (seperti lagunya si Opick,,) ,mengikuti sunnah nabi, memakmurkan masjid(At-Taubah:18), tilawah, membaca.

Dan hasil yang kita peroleh dg memanfaatkan waktu, kita akan mendapatkan pahala, selain itu ilmu jika kita memanfaatkannya u/ menambah ilmu. Karena sebenarnya Allah itu lebih menyukai orang-orang yang beriman dan berilmu (Al-Mujadilah:11)

So,, manfaatin waktu yang kita punya untuk mendapatkan pahala, ilmu, juga membangun potensi yang ada pada kita. Ok???


Nasehat untuk Ikhwan


Bagi seorang ikhwan, mikir-mikir dulu kalo mau menominasikan lawan jenis yang cuma punya kelebihan di penampilan fisik sebagai idaman. Apa pasalny?

Pertama, penampilan fisik itu sifatnya sementara. Bakal habis bin pudar dimakan usia atau bisa rusak karena musibah. Kalo kita matok rasa suka bin cinta cuma lantaran fisik, siap-siap aja kehilangan keindahan yang memikat kita itu. Nggak bener-bener cinta tuh kayaknya.

Kedua, lawan jenis yang diidamkan bukan cuma untuk mengisi ruang khayal semata, jadi bahan gosipan di antara teman, atau buat nemenin ke kondangan. Lebih dari itu, akhwat idaman berarti seseorang yang ditargetkan untuk menjadi istri, ibu dari anak-anak, mitra dakwah, sekaligus seorang sahabat dekat yang mengingatkan kala khilaf dan memompa semangat kita saat dirundung musibah. Semua peran itu dilahirkan dari pemahaman Islam dan kedewasaan dalam bersikap pada diri seorang akhwat, bukan dari penampilan fisik. Catet tuh!

Kondisi ini mengingatkan kita pada sebuah hadits : “Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalilah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatanmu, dirinya, dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.” (M. Fauzhil Adhim, ‘Kupinang Engkau dengan Hamdallah’).

Nah sobat, sepertinya kepribadian (syakhsiyah) seorang akhwat yang tercermin dalam caranya berpikir dan bersikap sesuai aturan Islam layak jadi ukuran standar bagi kaum Adam untuk memilih istri. Kalo emang bener mo ngebangun rumah tangga yang sakinah mawahdah, wa rohmah. Tapi bukan berarti kita ngelarang kamu pake pertimbangan fisik lho. Silahkan aja kalo mo pake standar ideal : cantik, kaya, shalehah, dan mau ama kita. Tapi kalo kriteria itu nggak ada, cukup asal mau ama kita, shalehah, kaya dan cantik. Yeee… itu mah sama aja atuh!

Ups! Maksute relakanlah predikat shalehah dari seorang wanita yang menerima cinta kita mengalahkan ego kita untuk dapetin yang cantik atau tajir. Yakin deh, selalu ada inner beauty dan kekayaan yang tak ternilai oleh materi pada diri seorang wanita shalehah (pengalaman nih ceritanya, huhuy!). Yes!

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tapi nikahilah wanita itu karena agamanya, sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak taat beragama).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Jangan Egois Donk!
Allah SWT berfirman : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. an-Nûr [24] : 26).
Dari ayat itu, Allah emang Maha Adil. Dia menjanjikan wanita yang baik untuk pria yang baik pula. Sebagaimana layaknya Aisyah RA menjadi istri Nabi SAW. Pria yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Itu berarti kalo pengen dapetin akhwat yang shalehah, kita juga kudu shaleh dong. Jangan cuma mikirin keinginan diri sendiri. Nggak adil tuh. Mengidamkan akhwat yang baik tapi kitanya sendiri jeblok. Karena kaum hawa juga berhak mendapatkan tipe-tipe primus alias pria mushala yang shaleh. Tul nggak sih?

Makanya kita jangan egois. Kita juga punya kewajiban yang sama seperti kaum Hawa untuk memoles kepribadian dan menghiasinya dengan akhlak Islam. Percaya deh, syakhsiyah Islam akan membantu kita untuk lebih bijak dalam mensikapi hidup. Kita jadi punya standar untuk berbuat atau menilai suatu perbuatan. Termasuk dalam memilih istri. Nggak asal nunjuk. Trus, di mana kita bisa dapetin syakhsiyah Islamiyah?
Yang pasti, syakhsiyah Islam nggak dijual bebas di pinggiran jalan, klub malem, pub, atau diskotek. Tapi kita bisa dengan mudah dapetinnya di forum-forum pengajian. Yup, di tempat pengajian kita diperkenalkan lebih dalam dengan Islam dan aturan hidupnya yang sempurna dan cocok buat kita. Ini yang bisa menjadi benih tumbuhnya syakhsiyah Islamiyah. Perlu perawatan yang rutin dengan getol mengkaji Islam jika kita ingin pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan.

Dengan dibubuhi pupuk keikhlasan semata-mata ingin dapetin ridha Allah (bukan cuma pengen dapet calon istri shalehah.. ehm..), syaksiyah Islam akan mengantarkan kita pada predikat kemuliaan. Di hadapan manusia, dan yang menciptakan manusia. Bukankah ini yang kita harapkan?

So, jangan tunggu hari esok. Mari kita sama-sama menjadi bagian dari generasi anak ngaji (Ngaji Generation). Membentuk syakhsiyah pada diri kita dan menanamkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sekaligus memperkuat barisan perjuangan untuk memuliakan diri kita, Islam, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Moga-moga Allah masukin kita dalam daftar orang-orang yang berhak dapetin pasangan hidup yang shaleh/shalehah. Mau dong? Yuuuk
sumber :http://ayonikah.net

Ikhwan dan Akhwat Sejati

AKHWAT SEJATI

Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?”
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.
Anakku…
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara. 
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.
Ketahuilah putriku…
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.
Dan ingatlah…
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.Setelah itu sang anak kembali bertanya,
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?” Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!”
Sang anakpun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”.
IKHWAN SEJATI
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!”
Sang Ibu tersenyum dan menjawab…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.  Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahadapi lika-liku kehidupan.
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.
Setelah itu, sang remaja pria kembali bertanya. Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?
Sang Ibu memberinya buku dan berkata…
Pelajari tentang dia. Ia pun mengambil buku itu, MUHAMMAD, judul buku yang tertulis di buku itu.
(Sumber: http://keepfight.wordpress.com/2009/10/08/ikhwan-dan-akhwat-sejati/)